Tokoh Masyarakat Tentena Tolak Normalisasi Hulu Sungai Poso

0
251
Suasana pelaksanaan sosialisasi di Aula Pogombo Tentena Kecamatan Pamona Puselemba, Senin (19/3). (Foto: Budiyanto)

POSO-Rencana PT Poso Energy, perusahaan induk PLTA Poso, mengeruk dasar hulu sungai Poso di muara Danau Poso Tentena sedalam 4 meter dan lebar 40 meter untuk kepentingan meningkatkan pasokan air guna memutar turbin-turbin mesinnya lewat proyek Poso River Improvement mendapat penolakan dari masyarakat sekitar.

Penolakan warga terungkap saat gelar sosialisasi rencana pelaksanaan proyek muara danau yang menjadi hulu sungai Poso itu di Tentena, Senin (19/3).

Sosialisasi yang diikuti ratusan warga Tentena dan sekitarnya ini juga menghadirkan Bupati Darmin Sigilipu bersama sejumlah petinggi PT Poso Energy. Dalam sosialisasi yang berlangsung selama setengah hari tersebut, Pemkab Poso melalui bupati mencoba meyakinkan warga bahwa apa yang hendak dilakukan PT Poso Eneegy adalah untuk membantu pemerintah mengembangkan sektor pariwisata di Kabupaten Poso, khususnya wisata air danau.

“Kalau tidak ada Poso Energi, kita tidak akan berkembang. Tentena nantinya akan menjadi kota wisata religi. Poso Energy bisa membantu pembangunan kembali rumah Kruyt,” terang Bupati saat sosialisasi berlangsung.

Bupati menyebut, posisi Pemkab Poso dalam sosialisasi hanya untuk menjelaskan kepada masyarakat Tentena terkait langkah PT Poso Energy dalam membantu Pemkab meningkatkan wisata lokal daerah melalu normalisasi hulu sungai Poso.

Sebelumnya pihak PT Poso Energy rencananya akan melakukan pengerukan sungai sepanjang 12,8 kilometer. Perusahaan milik keluarga Jusuf Kalla ini akan membangun taman konservasi di wilayah seluas kurang lebih 24 hektare. Namun lokasi itu dianggap sangat penting oleh masyarakat suku Pamona karena merupakan tempat dimana budaya Mosango dilakukan setiap kali air danau surut. Budaya Mosango adalah tradisi menangkap ikan secara bersama-sama dengan menggunakan alat tradisional.

Lambang Bamotoru, salah seorang tokoh masyarakat Pamona dalam kesempatan yang sama mengatakan, selain akan menghilangkan budaya Mosango, proyek normalisasi juga berpotensi menghilangkan budaya pesisir danau Poso lainnya, yakni Waya Masapi, cara menangkap sidat khas Poso dengan memasang pagar dari bambu di tengah sungai. Tradisi berikutnya yang juga bakal hilang adalah Monyilo, yakni cara nelayan Danau Poso menombak ikan dari perahu pada malam hari dengan menggunakan lampu sebagai penarik bagi ikan.

“Waktu tahun 1991 Menristek Habibie datang ke Tentena, beliau menyempatkan diri singgah melihat jembatan Pamona, dan waktu itu beliau berpesan agar jembatan ini dipertahankan karena merupakan warisan sejarah,” ungkap Lambang Bamotoru.

Yustinus Hokey, budayawan Poso mempertanyakan maksud pemkab dan perusahaan menormalisasi hulu sungai. Mengingat debit air yang ada masih sangat normal dan besar.

“Kami melihat proyek itu akan menggerus budaya orang Poso, akan menghilangkan identitas orang Poso dengan hilangnya beberapa tradisi yang terus dijaga turun temurun. Belum lagi dampak lingkungannya,” ujar Yustinus.

Sementara itu, pihak PT Poso Energi saat menanggapi keberatan masyarakat mengatakan mereka tidak berniat merusak budaya masyarakat Pamona, justru sebaliknya membantu melestarikannya dengan cara menawarkan renovasi jembatan Pamona yang dibangun pertama kali sekitar tahun 1930 an itu.

Penolakan atas rencana perusahaan ini memang sudah dilakukan oleh berbagai kelompok masyarakat di pinggiran danau Poso, khususnya di Tentena dan sekitarnya, mulai dari budayawan, aktifis hingga anak-anak muda.

Jembatan ikonik di Kota Tentena, jembatan Pamona memang juga akan terkena imbas proyek ini, beberapa waktu lalu beredar video model renovasi jembatan Pamona yang dibuat oleh Bukaka, induk perusahaan PT Poso Energy di media sosial. Model itu mendapat tanggapan negatif dari warga Pamona karena dianggap merubah bentuk sebelumnya.(bud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.