Memaknai Paskah Sebagai Teladan Hidup

0
108
Suasana ibadah perayaan Paskah di Gereja Katolik Santa Maria Palu di Jalan Tangkasi, Minggu (1/4). (Foto: Mugni Supardi)

PALU – Seperti halnya umat Kristen di dunia, umat Kristen di Kota Palu, Sulawesi Tengah, juga merayakan Paskah sebagai peringatan kebangkitan Isa Almasih (Yesus Kristus), Minggu (1/4).
Secara keseluruhan pelaksanaan ibadah Paskah di Kota Palu berjalan aman dan lancar.

Sejumlah aparat kepolisian terlihat ikut mengamankan prosesi ibadah Paskah di gereja-gereja di Kota Palu.
Ibadah peringatan Paskah di jemaat gereja GKST Imanuel Palu, berlangsung dalam empat kali jadwal ibadah yakni, pagi hingga malam pukul 05.00, pukul 09.00, pukul 16.30 dan pukul 19.00, dipimpin oleh Pendeta Nopembritapsir Balo saleh, S.Th.

Sebagai pengantar khotbah, Pendeta Nopembritapsir memilih pokok bacaan Alkitab yang diambil dalam kitab Matius 28 ayat 1 sampai 10.

Dalam khotbahnya Pendeta Nopembritapsir mengatakan, sejak dari Jumat Agung hingga tiba pada peringatan Paskah, jelas digambarkan dari perjalanan penderita Yesus, mati dengan cara tragis dan kemudian bangkit yang menjadi peringatan untuk kita. Kebangkitan Yesus merupakan sukacita dan kebahagiaan kita sebagai umat yang percaya. “Kemenangan Yesus berkuasa atas maut dan kita umatNya bergembira karena kematiannya tidak sia sia,” ucapnya.

Pendeta Nopembritapsir, menjelaskan dalam peradaban manusia, kelahiran dan mati adalah hal akan terjadi pada siapa saja manusia, raja lahir dan mati, pejabat lahir juga mati, tapi Yesus lahir, mati tapi Dia memiliki keistimewaan, dibangkitkan kembali sebagai jawaban untuk menyelamatkan umat yang percaya kepadaNya. “Permasalahan-permasalahan yang terjadi dalam kehidupan kita, janganlah membuat kita menjauh dariNya. Karena Dia memiliki rancangan terindah untuk kita,” ujarnya.

Sebagai umat yang percaya, jangan jadi eksklusif dan tidak mau memberi diri dan bersaksi melalui sikap dan keteladanan yang diajarkanNya. “Hendaknya dengan peringatan kebangkitan Yesus, siapapun kita dapat dipakai untuk bersaksi dalam kuasa kebangkitan Yesus dalam kepribadian hidup kita sehari-hari dimanapun kita berada,” pesan Nopembritapsir.

Usai ibadah pukul 05.00 di jemaat GKST Imanuel Palu, jemaat langsung disuguhkan berbagai menu sarapan yang disediakan panitia di meja-meja di depan gereja dan di samping-samping gereja. Rangkaian sarapan bersama merupakan wujud rasa syukur dan kebersamaan jemaat GKST Imanuel Palu menyambut Paskah. “Makan bersama ini bentuk rasa syukur jemaat dan kebersamaan memperingati Paskah. Ada banyak makanan sarapan disiapkan panitia,” kata Gembala Jemaat GKST Imanuel Palu Pendeta Thomas Tantotosi, yang ikut antre mencicipi makanan.

Sementara pelaksanaan ibadah Paskah di Gereja Katolik Santa Maria Palu di Jalan Tangkasi, juga berlangsung khitmad. Jemaat mengikuti ibadah paskah dengan tenang dan aman. Aparat keamanaan Polri dan TNI ikut mengamankan pelaksanaan ibadah Paskah. Polisi lalu lintas tampak mengamankan arus lalu lintas di gereja-gereja yang menjalankan ibadah Paskah.

Sementara Keuskupan Agung Jakarta memperingati Paskah tahun ini dengan mendekatkan unsur pancasila. Alasannya, tahun ini Indonesia mengalami tahun politik.

Uskup Keuskupan Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo menuturkan pihaknya prihatin atas berbagai masalah yang merusak persatuan dan kebinekaan Indonesia. Lewat perayaan Paskah kali ini dia berharap agar bisa menggugah kembali semangat berbangsa yang memiliki keragaman. ”Kita ungkapkan dalam Doa Prefasi Tanah Air. Dalam doa ini, kita mengungkapkan iman bahwa bangsa dan negara Indonesia adalah buah karya agung Allah,” ucapnya kemarin (1/4) saat konferensi pers di Gereja Katedral Jakarta.

Dalam doa tersebut umat diajak untuk mengenang peristiwa kebangkitan nasiona hingga kemeerdekaan. Suharyo mencontohkan dalam Doa Prefasi Tanah Air tersebut terdapat kalimat “Berkat jasa begitu banyak tokoh pahlawan, Engkau menumbuhkan kesadaran kami sebagai bangsa, kami bersyukur atas bahasa yang mempersatukan dan atas Pancasila dasar kemerdekaan kami,”.

Dalam kesempatan itu, Suharyo juga menjelaskan jika relevansi paskah tahun ini juga berkaitan dengan tahun pemilihan umum. Dia enggan menyebut tahun ini menjadi tahun politik. ”Pada tahun ini dirayakan ketika Keuskupan Agung Jakarta menjalani tahun persatuan dengan semboyan Amalkan Pancasila : Kita Bhinneka, Kita Indonesia,” tuturnya.

Dia mengatakan jika penyebutan tahun politik tidaklah tepat. ”Karena Cuma ingat jadi bupati dan lain-lain. Namun akhirnya banyak yang terkena OTT (operasi tangkap tangan, Red),” ujar Suharyo.

Suharyo mengajak umat untuk bersyukur karena Tuhan menganugrahkan keragaman dalam berbangsa. (ron/lyn/jpg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here