Dinyatakan Bersalah, Mantan Anggota DPRD Palu Dihukum 11,6 Tahun

0
650
Mantan Anggota DPRD Palu Abdul Rahman M Rifai alias Om Dul, ketika berdiri mendengar amar hukuman yang dijatuhkan majelis hakim. Terdakwa ini dinyatakan bersalah melakukan pencabulan terhadap anak di bawah umur. (Foto: Istimewa)

PALU –  Di hadapan korban dan sanak keluarga korban, termasuk keluarga terdakwa sendiri, Abdul Rahman M Rifai alias Om Dul, yang dipesakitan mengenakan baju tahanan, pada ahkirnya dinyatakan terbukti bersalah oleh majelis hakim, dalam sidang yang berlangsung, Senin (2/4) kemarin.

Sama dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU),  mantan anggota DPRD Kota Palu dua priode ini juga divonis 11 tahun penjara. Dia terbukti bersalah melakukan tindak pidana perlindungan anak yakni melakukan persetubuhan dan pencabulan dengan tipu muslihat terhadap korban RR yang masih anak di bawah umur.

Putusan terdakwa Abdul Rahman Rifai dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Klas IA/PHI/Tipikor Palu, dibacakan I Made Sukanada SH MH, yang didampingi dua hakim anggota Ernawati SH. MH dan Agus Safuan Amijaya SH. MH.

Putusan majelis hakim yang sudah dimusyawarahkan sejak beberap pekan lalu itu, pada intinya sependapat dengan tuntutan JPU. Terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana perlindungan anak sebagaimana sebagaimana diatur dan diancam dalam Pasal 81 ayat (2), dan sebagaimana diatur dan diancam Pasal 82 ayat (1), Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak, Jo. Pasal 64 ayat (1) KUHP.

“Perbuatan terdakwa Abdul Rahman M Rifai alias Om Dul terbukti bersalah melakukan tindak pidana perlindungan anak sebagaimana yang didakwakan,” kata I Made Sukanada SH MH hakim ketua yang membacakan amar putusan terdakwa.

Dalam pertimbangan majelis hakim sebagaimana yang dibacakan hakim anggota 1 Ernawati SH MH, bahwa berdasarkan fakta persidangan pada hari dimana terjadi persetubuhan terhadap korban terdakwa lebih dulu melakukan perbuatan tipu muslihat terhadap korban.

“Terdakwa mengajak korban untuk pergi ambil kacamatan di warkop waleta dan akan membelikan celana pramuka, tetapi itu tidak terdakwa lakukan. Nanti setelah kejadian dan korban berada di rumah sakit baru terdakwa membawakan korban celana pramuka,” terang Ernawati membacakan pertimbangannya.

Namun di dalam proses persidangan terdakwa sempat mengelak dan menyangkal tidak melakukan perbuatan itu. Apalagi mengenai pengakuan terdakwa kalau dia mengalami penyakit diabetes yang mengakibatkan kemaluannya tidak lagi mengalami ereksi.

“Terhadap sangkaan itu, saksi ahli yang dihadirkan terdakwa yakni dr Jimmy juga tidak dapat menyimpulkan apakah diabetes dapat mempengaruhi proses ereksinya kemaluan atau tidak. Sebaliknya sebelum melakukan perbutannya berdasarkan fakta terdakwa sempat lebih dulu memperlihatkan gambar telanjang melalui hpnya kepada korban dan membujuk untuk mencium korban,” kata Ernawati lagi.

Sehingg dari fakta persidangan tersebut akhirnya majelis hakim berkesimpulan kalau perbuatan terdakwa telah terbukukti. Sehingga dia dijatuhi hukuman pidana 11 tahun penjara. Serta dipidana untuk membayar denda.

“Menghukum terdakwa untuk membayar denda sebesar Rp 60 juta apabila tidak dibayar diganti kurungan penjara selama 6 bulan,” kata I Made Sukanada.

Atas putusan itu, jaksa penuntut umum, terdakwa dan kuasa hukumnya diberikan kesempatan selama tujuh hari. Apakah menerima putusan, pikir-pikir atau akan mengajukan banding. “Jadi atas hal itu kita beri kesempatan selama 7 hari,” tandas I Made Sukanada SH MH sembari menutup persidangan. (cdy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.