Operasi Tinombala di Poso Kemungkinan Dihentikan

0
218
Wakapolri Syafruddin (tengah) memberikan keterangan kepada wartawan. (Foto: Jawapos)

JAKARTA – Operasi Tinombala di Poso masih menyisakan pengejaran sekitar delapan orang DPO. Namun, Polri sedang melakukan evaluasi terkait operasi tersebut. Ada kemungkinan operasi akan dihentikan, mengingat frekuensi dari perlawanan kelompok Santoso menurun.

Wakapolri Komjen Syafruddin menjelaskan, kalau memang diperlukan operasi Tinombala akan dihentikan. Hal tersebut akan dilihat dari situasi dan kondisi di Poso. “Sepanjang bisa ditangani kewilayahan, ya cukup sudah,” terang jenderal berbintang tiga tersebut kemarin.

Menjaga keamanan Indonesia ini memang bukan hanya satu titik. Apalagi, di depan mata ini sudah ada pilkada serentak. Pasukan harus dikonsentrasikan ke Pilkada. ”Pengamanan pilkada harus siap,” tuturnya.

Ada sejumlah pertimbangan untuk menilai kerawanan pilkada, dari demografi,  jejak ketegangan daerah dan sebagainya. Untuk yang demografi itu di Jawa. ”Kalau yang jejak itu Indonesia Timur,” terangnya.

Dia menerangkan, semua potensi gangguan keamanan itu harus diwaspadai. Sehingga, bisa dilakukan pencegahan terjadinya konflik saat pilkada. ”Jangan sampai pilkada malah panas sekali,” urainya.

Karena itu, pasukan juga dikerahkan ke sejumlah daerah yang masuk kategori rawan tersebut. Sehingga, keamanan lebih terjadi, situasi yang coba dicegah kalau tetap muncul bisa ditanggulangi. ”Di situ butuh pasukan,” terang mantan Kalemdikpol tersebut.

Maka dari itu, Kapolri Jenderal Tito Karnavian melakukan peninjauan ke sejumlah daerah yang akan menggelar pilkada serentak. Tentunya, untuk mensolidkan semua elemen masyarakat. ”TNI dan Polri juga perlu kerekatan, itulah yang dilakukan Kapolri bersama Panglima TNI,” ungkapnya.

Untuk daerah-daerah yang terdapat calon kepala daerah asal Polri, dia menuturkan bahwa personel juga diperingatkan untuk tidak memihak pada siapapun. ”Kalau memihak ada bukti, ada sanksi,” ujarnya.

Sebelumnya, Operasi Tinombala berlangsung sejak 2014 dengan melibatkan lebih dari 3 ribu personel. Hasil dari operasi ini Santoso dilumpuhkan dan 34 anggotanya tewas dan menyerahkan diri.

Sementara korban meninggal dunia dari petugas baik Polri dan TNI mencapai belasan orang. Untuk jumlah korban luka diperkirakan jauh lebih banyak selama operasi tersebut. (idr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.