Pabrik Aspal di Sunju Sigi Tidak Berizin

0
782
Bangunan Pabrik AMP milik PT Berkat Maribe Jaya, yang terletak di Desa Sunju, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, Selasa (10/4). (Foto: Nendra Prasetya)

SIGI – Pembangunan Pabrik Asphalt Mixing Plant (AMP) yang diketahui milik PT Berkat Maribe Jaya, yang terletak di Desa Sunju, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, dinilai ilegal. Pabrik yang dibangun di lahan yang seharusnya diperuntukan pertanian basah milik warga ini pun, berdiri tanpa adanya izin kesesuaian tata ruang.

Sesuai Peraturan Daerah (Perda) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)  Kabupaten Sigi Nomor 21 Tahun 2011, lokasi dibangunnya pabrik tersebut peruntukannya memang hanya boleh untuk lahan pertanian basah. Warga sekitar pun sempat mempertanyakan izin dari pihak perusahaan sehingga berani membangun pabrik AMP di lokasi itu.

“Lucu juga perusahaan besar kok tidak tahu aturan. Sudah bangun pabrik, tapi katanya belum ada izin,” ungkap warga sekitar yang meminta namanya tidak dikorankan.

Pihak Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sigi pun merasa heran adanya pabrik tersebut di lokasi itu. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sigi, Mohammad Afit Lamakarate, menegaskan, bahwa perusahaan sesuai aturan belum bisa beroperasi, karena belum memiliki kesesuaian tata ruang yang dikeluarkan oleh dinas teknis dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Kabupaten Sigi.

Hal ini dikarenakan kesalahan dari pabrik itu sendiri, karena melakukan pembangunan di atas lahan pertanian basah. “Karena itu masuk dalam lahan pertanian basah, tidak bisa melakukan pembangunan di atasnya. Sehingga kami belum bisa proses rekomendasi lingkungan karena belum ada kesesuaian tata ruang,” jelas Kadis.

Hal ini juga berdasarkan PP no 27 tahun 2015 tentang izin lingkungan. Berpatokan pada peraturan itu lanjut Moh Afit sehingga dinasnya juga belum bisa mengeluarkan izin. Dijelaskan Kadis Lingkungan Hidup, dokumen kesesuaian ruang itu bisa dikeluarkan oleh dinas teknis seperti PU atau Badan Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD).  “Kalau kesesuaian ruangnya sudah ada pasti sudah kita proses namun karena tidak ada makanya kita tidak proses. Apabila kita memaksa untuk memprosesnya, kami akan disalahkan,” terangnya.

Hal ini pun diakui oleh salah satu pekerja di PT Berkat Meriba Jaya, Safarudin. Ia mengaku bahwa selama enam bulan pabrik itu berdiri, sampai saat ini belum bisa beroperasi karena masih terkendala pada izin. Akibat terkendala izin, pabrik yang bisa menghasilkan 22 Ton aspal itu sampai saat ini belum dialiri lisrik oleh PLN. Sehingga para pekerja hanya bisa menunggu sampai dikeluarkannya izin dari pemerintah. “Kami tidak bisa bekerja kalau tidak ada izin. Saat ini bos (pemilik pabrik, red) sedang berada di luar kota,” ungkapnya.

Direktur Utama (Dirut) PT Berkat Meribe Jaya, Recky Wentinusa, yang hendak ditanya terkait aturan apa yang dipegang sehingga berani mendirikan pabrik AMP di tempat itu, belum berhasil dikonfirmasi wartawan. Saat dihubungi via SMS, Recky tidak membalas. Begitupun ketika di telepon di nomor pribadinya, ponsel milik Dirut PT Berkat Meribe Jaya ini juga dalam posisi tidak aktif. (ndr/agg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.