Buaya Teluk Palu Jadi Perhatian  Pemprov Sulteng

0
667
Seekor buaya dewasa dengan ukuran sekitar 3 meter yang lehernya terjerat ban motor sering terlihat muncul di sekitar lokasi reklamasi Pantai Talise, Rabu (11/4). (Foto: Mugni Supardi)

PALU – Keberadaan buaya di Teluk Palu mulai mendapat perhatian Pemerintah Provinsi Sulteng. Pasalnya, predator air itu tidak hanya menguasai sungai Palu namun keberadaannya sudah masuk ke area publik yakni, sepanjang Pantai teluk Palu. Wilayah ini sering dijadikan masyarakat untuk berwisata mandi laut maupun lokasi mancing masyarakat.

Terkait hal tersebut, Pemprov Sulteng langsung menggelar rapat bersama instansi terkait di antaranya BKSDA, dipimpin Sekretaris daerah provinsi Sulawesi Tengah Drs Mohamad Hidayat MSi, di ruang kerjanya, Rabu (11/4).

Sekretaris Daerah didampingi Asisten Ekonomi, Pembangunan dan Kesra, Dr Ir B Elim Somba, Kepala Biro Humas dan Protokol, Drs Moh. Haris.

Data dari BKSDA Sulteng, keberadaan buaya di teluk Palu terdapat 21 – 26 ekor buaya dewasa berdasarkan identifikasi di lapangan. Namun Sekda mengungkapkan informasi dari masyarakat jumlah itu jauh lebih besar dari hasil identifikasi BKSDA.

“Berdasarkan data BKSDA sekitar 26 ekor buaya dewasa berada di Teluk Palu, tapi berdasarkan informasi masyarakat sekitar 100 ekor buaya mulai dari yang kecil hingga berukuran besar telah hidup di sungai Palu. Keberadaan buaya tersebut sudah mengganggu ruang-ruang publik yang ada di sekitar pesisir Teluk Palu,” Jelas Sekdaprov Sulteng.

Lebih lanjut dikatakannya, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah sudah serius akan mengurus dan mencari solusi keberadaan buaya tersebut, sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku.

Untuk hal tersebut, Sekdaprov Hidayat Lamakarate, memberikan tiga solusi pertama, membuat penangkaran wisata buaya, penangkaran industri dan membuat areal konservasi. Ketiga  solusi yang ditawarkan itu menurut Sekda perlu dikaji secara teknis sehingga mendapatkan solusi penanganan terbaik.

Sebelumnya, keberadaan buaya berkalung ban juga mendapat perhatian dari Harian Jawa Pos bersama Radar Sulteng. Upaya membebaskan ban yang melilit di leher buaya, Jawa Pos grup mendatangkan panji sang petualang ke Kota Palu. Hanya saja, upaya membebaskan B3 (Buaya Berkalung Ban) belum berhasil dikarena antusias masyarakat cukup tinggi dan dampaknya buaya jarang muncul ke permukaan karena takut banyaknya kerumunan masyarakat.

Dihubungi tadi malam, Muhamad Panji mengungkapkan keinginnya untuk membantu pemerintah daerah bila diperlukan khususnya dalam upaya melakukan evakuasi predator air tersebut. Upaya ini perlu dicarikan solusi secepatnya sebelum binatang melata itu menimbulkan konflik dengan manusia.

‘’Sekarang belum karena masih banyak makanan di Sungai Palu. Kalau populasi buayanya semakin banyak dan persediaan makanan berkurang dikuatirkan akan terjadi konflik. Apalagi kawasan teluk Palu dijadikan kawasan obyek wisata masyarakat untuk mandi-mandi,’’ demikian kata Muhamad Panji. (*/awl)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.