Dua Pengusaha Ajukan Izin Taman Wisata Buaya Palu

0
678
Panji mengejar buaya dengan ukuran lebih kecil saat melakukan pemantauan lapangan di sekitar muara sungai Palu, Senin sore (22/1) lalu. (Foto: Dite/JawaPos)

PALU – Kepala Balai KSDA Sulawesi Tengah Ir Noel Layuk Allo MM mengungkap ada dua pengusaha di Kota Palu dan Kabupaten Sigi sedang mengajukan lokasi usahanya untuk membuat taman satwa. Taman satwa ini nantinya akan menampung buaya sungai Palu yang sudah dianggap mengganggu ruang publik.

“Tapi terkendala kawasan yang diusulkan itu belum bersertifikat. Kita harap dilengkapi dulu persyaratan teknisnya, baru kita cepat membantu memfasilitasi agar bisa terbit izinnya dengan dukungan dari pemerintah Provinsi, Kota dan Kabupaten,” kata Noel Layuk Allo di Workshop Kerjasama di Kawasan Konservasi Lingkup Balai KSDA Sulteng, Kamis (12/4).

Noel Layuk Allo mengatakan, Balai KSDA Sulteng bersama pemerintah Provinsi Sulteng sudah menyepakati untuk mendorong baik investor dari luar Sulteng maupun di dalam agar supaya dapat membuat penangkaran dan atau taman satwa di wilayah Provinsi Sulteng. Ini sebagai upaya konservasi untuk penyelamatan buaya tersebut.

“Dua pengusaha ini baru berniat mengajukan. Kami dan pemerintah juga mendorong pengusaha yang lain,” sebutnya.

Jika sudah ada penangkaran atau taman satwa proses evakuasi, kata Noel akan melibatkan banyak pihak dan tim khusus. Seperti dari Balai KSDA bersama-sama instansi terkait di antaranya Polairud dan Pemerintah Provinsi.

“Termasuk LSM, misalnya pecinta satwa kemudian mitra-mitra kami yang bisa membantu,” terangnya.

Sementara untuk Buaya Berkalung Ban (B3) dirinya terus terang Balai KSDA Sulteng selalu berupaya agar bisa dapat menemukan sekaligus menyelamatkan buaya dari ban yang terjerat di lehernya. Namun sejauh ini memang menurut Noel sangat sulit. Karena untuk mendekati B3 saja tidak bisa.

“Kita mendekat, dia pergi,” singkat Noel.

Olehnya itu, dia meminta partisipasi semua pihak apakah itu masyarakat bahkan media jika B3 muncul di waktu di lokasi tertentu dan dapat mendukung untuk proses penyelamatan, maka akan diselamatkan.

“Saya pikir tetap jalan, tetapi jangan selalu difokuskan ke B3 terus, karena memang susah, kita sudah lakukan pencarian satu minggu berturut-turut, tetapi hasilnya nihil. Dan biasa muncul di waktu yang kebetulan kita tidak sangka-sangka,” jelas Noel.

Buaya sungai Palu menjadi pembahasan serius baru-baru ini antara Balai KSDA Sulteng dan Pemerintah Provinsi Sulteng. Karena, bukan hanya B3 saja yang sering dilihat masyarakat mondar-mandir di ruang publik seperti di pesisir Teluk Palu, tetapi buaya lain berukuran kurang lebih dua meter juga sering terlihat.

“Sebelum terjadi konflik antara manusia dan reptil ini. Kami imbau juga masyarakat agar berhati-hati,” tutup Noel. (acm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.