Pertumbuhan Ekonomi Sulteng Tidak Merata

0
322

PALU – Perekonomian Sulawesi Tengah (Sulteng) setiap tahunnya tumbuh secara signifikan. Namun pertumbuhan tersebut tidak merata atau banyak masyarakat yang tidak merasakan langsung pertumbuhan tersebut, karena peningkatan ekonomi dan perputaran uang lebih dominan terjadi di Kabupaten Morowali.

Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulawesi Tengah, Miyono memaparkan materi pada kegiatan Capacity Building wartawan Sulawesi Tengah 2018, Sabtu (16/4) di salah satu hotel di Kota Palu. (Foto: Umi)

Hal itu terungkap dalam Capacity Building Wartawan Sulteng 2018 yang digelar Bank Indonesia (BI) perwakilan Sulteng, Sabtu (16/4) di salah satu hotel di Kota Palu.

Kepala perwakilan BI Sulteng Miyono, saat memaparkan materinya mengatakan, di Kabupaten Morowali terdapat sejumlah perusahaan industry besar, salah satunya PT IMIP.  Jumlah tenaga kerja banyak, baik tenaga kerja lokal, luar Sulteng maupun tenaga kerja asing. “Jumlah tenaga kerja di Kabupaten Morowali mencapai ribuan. Dengan demikian total transaksi juga pastinya tinggi termasuk kebutuhan uang. Buktinya kas titipan BI yang ada di Bank Sulteng Morowali selalu cepat habis.

“BI membuka kas titipan di Kabupaten Morowali, dengan jumlah ratusan miliar, belum sampai satu bulan telah habis,” ungkapnya.

Sayangnya menurut Miyono, jumlah uang yang mencapai ratusan  miliar tersebut perputarannya tidak masuk ke Sulteng akan tetapi masuk ke Provinsi lain yang berdekatan dengan Kabupaten Morowali. Salah satu penyebabnya, karena di daerah Morowali tidak tersedianya fasilitas seperti mall, hotel dan pusat perbelanjaan lainnya. Otomatis belanja masyarakat, khususnya karyawan perusahaan industry lari ke provinsi tetangga.

Miyono mengungkapkan, sudah banyak uang digelontorkan di Morowali, namun dia tidak bisa menyebutkan data rillnya, tidak bisa dibuka ke publik merupakan rahasia bank. Yang jelas kata Miyono jumlahnya banyak. BI terus droping uang tunai di Kabupaten Morowali, belum ada satu bulan dilaporkan telah habis.

“Transaski di Morowali sangat besar, saya akui itu. Akibatnya harga bahan pokok di Morowali juga melambung tinggi,” ungkapnya.

Secara umum lanjut Miyono, pertumbuhan ekonomi Sulteng meningkat. Hanya saja tidak terasa merata bagi masyarakatnya. Dia menyontohkan, banyak orang di Sulteng khususnya di ibu kota provinsi Sulteng yakni Kota Palu memiliki mobil mewah. Pertumbuhan kendaraan sangat signifikan yang bisa menjadi indikator meningkatnya pendapatan masyarakat. Selain itu, peningkatan jumlah penumpang pesawat setiap hari di Bandara Mutiara Sis Aljufri Palu sangat signifikan. Ini menandakan banyaknya jumlah masyarakat yang mengalami peningkatan pendapatannya, sehingga meningkatkan konsumsi. “Di Sulteng sekarang banyak bermunculan OKB (orang kaya baru, red). Sebenarnya memang Sulteng ini pertumbuhan ekonominya meningkat,” jelasnya.

Hanya saja ujar Miyono, pertumbuhan ekonomi tidak merata, beberapa kelompok masyarakat memang tidak merasakan secara langsung dampaknya. Bisa jadi karena perputaran uang lebih didominasi di beberapa daerah seperti Morowali dan Banggai yang memang memiliki sejumlah industry. Dengan demikian bisa jadi perputaran lebih banyak ke daerah provinsi tetangga yang berdekatan dengan perusahaan indusrti.

“Yang jelas di Sulteng ini yang menjadi penopang peningkatan pertumbuhan ekonomi adalah sektor Pertambangan dan Industri yang ada di Morowali dan Banggai. Kemudian penompang lainnya yakni, sektor perkebunan dan sektor pertanian,” pungkasnya. (umr/ron)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.