Penderita Tumor Asal Sigi Terlantar di Makassar

0
144

SIGI-Sarjon penderita tumor ganas di bagien leher hingga kepala warga Desa Pombewe, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi terlantar di Kota Makassar.

Sarjon yang diberangkatkan ke Makassar untuk berobat, saat ini nasibnya terlunta-lunta di kota orang. Hal ini berdasarkan pengakuan keluarga, Ilham vie telpon ke media ini.

Diketahui keberangkatan Sarjon ke Makassar berdasarkan amanat dari Bupati Sigi Moh Irwan Lapatta, yang meminta agar Dinas Kesehatan membantu Sarjon dalam pengobatannya. Namun, sampai saat ini bantuan itu tidak kunjung terealisasi.

Kini pihak keliarga bersama Sarjon merasa ditelantarkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sigi, selaku pihak yang mengfasilitasi pengobatannya.

“Belum pernah seper pun menerima bantuan dari Dinas Kesehatan Sigi.

Saya sendiri yang menangani pasien di sini. Sangat kasian ketika hanya diimingi janji terus-menerus,” terangnya.

Pada Senin malam (16/4) kata Ilham, pihak Dinas Kesehatan menelepon kembali berjanji memberikan bantuan pada Selasa. Pihak dinas mengaku bahwa akan memberikan bantuan senilai Rp 3 juta, akan tetapi bantuan itu sampai detik ini belum juga diterima keluarga.

Ilham mengaku, kebutuhan hidup selama berada di Makassar itu cukup banyak, dan pihak dinas mengaku akan menanggung biaya selama berobat di Makassar. Sementara kenyataanya, biaya tempat tinggal dan biaya hidup tidak pernah ditanggung. Sehingga keluarga merasa Dinas Kesehatan sengaja menelantarkan pasien di ibu kota Sulawesi Selatan. “Kami bayar sendiri biaya kos Rp 700 ribu perbulan di sini,” ungkap Ilham.

Terpisah, ditanyakan terkait masalah tersebut, Kadis Kesehatan Sigi, Sofyan Mailili membantah akan hal itu. Ia menyampaikan bahwa ini merupakan miss komunikasi antar pihak keluarga dan Dinas Kesehatan. Karena dalam biaya hidup pasien dan keluarga selama di Makassar itu, selalu dibantu oleh pihak dinas.

“Kemarin kami baru saja mengirim bantuan untuk biaya transpotasi dan biaya hidup pendamping serta pasien selama berada di sana,” katanya.

Dijelaskan Sofyan, sebelum mengirimkan uang biaya selama berobat, pihaknya selalu meminta nota dari keluarga, berapa biaya yang harus diberikan oleh dinas. Karena itu nantinya akan menjadi laporan pertanggungjawaban dinas, untuk melakukan pencairan uang.

Sedangkan untuk biaya pengobatan di rumah sakit kata Sofyan, itu semua ditanggung oleh BPJS yang dimiliki oleh pasien. “Jadi ini mungkin hanya kesalapahaman dari pihak keluarga pasien dan pihak dinas saja,” pungkasnya.(ndr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.