Buaya Sungai Palu Menjelajah Hingga Donggala

0
968

Warga Desa Towale Tangkap Buaya Berukuran 4,6 Meter

Warga bersama petugas Balai KSDA Sulteng mengevakuasi buaya di dusun I Desa Towale Kabupaten Donggala setelah berhasil ditangkap warga, Senin (23/4). Foto lain, buaya dengan ukuran jumbo saat diturunkan dari truk di kantor BKSDA Sulteng, tadi malam. (Foto: Mugni Supardi)

PALU – Buaya yang ditangkap warga di dusun I, Desa Towale, Kabupaten Donggala sekitar pukul 10.00 wita, Senin (23/4), dengan panjang 4,6 meter dievakuasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sulteng ke kantornya.

Dengan menggunakan armada sampah milik DLH Kabupaten Donggala buaya yang diperkirakan berasal dari sungai Palu menjelajah sampai ke pesisir laut Donggala tiba di BKSD sekitar pukul 18.00 wita. Setelah dari Towale sekitar pukul 17.00 wita.

Kasubag TU Balai KSDA Sulteng Mulyadi menjelaskan mereka mendapat informasi dari masyarakat Towale yang menelepon ke kantor BKSDA, Senin siang sekitar pukul 12.00 wita.

“Jadi langsung hubungi teman-teman untuk ke lokasi,” sebut Mulyadi ditemui di kantor Balai KSDA Senin malam, sesaat buaya dari Towale tiba di Balai KSDA.

Mulyadi menuturkan, banyaknya warga sempat membuat proses evakuasi terhambat. Dengan adanya aparat kepolisian yang saat itu berada di lokasi, sehingga membantu mengamankan warga yang mencoba mendekat saat buaya akan dinaikkan ke truk. Proses evakuasi buaya ke truk juga sangat sulit. Dari hutan bakau tempatnya diikat buaya ditarik beberapa orang warga. Nanti sampai di lokasi truk, barulah buaya itu digotong warga. Namun dua kali percobaan gagal. Percobaan ketiga barulah buaya itu berhasil dinaikkan ke dalam truk.

“Untuk sementara waktu kami tempatkan di kandang Balai KSDA. Nanti koordinasi dengan pusat penyelamatan atau pihak terkait di luar kota untuk penangkarannya,” terang Mulyadi.

Proses evakuasi buaya terbesar yang pertama kali dievakuasi oleh Balai KSDA Sulteng di kantornya juga sedikit mengalami kesulitan. Pasalnya, tubuh buaya yang hampir tidak muat untuk bisa masuk di pintu kandang.

Sebelumnya kata Mulyadi, mereka baru saja memindahkan tiga ekor buaya yang dievaluasi dari beberapa warga di sekitar sungai di Kota Palu ke Manado, tepatnya dipusat penyelamatan satwa Manado. Dan baru-baru ini mereka kembali menerima 1 ekor buaya dari masyarakat di Kelurahan Pengawu.

“Kami harap masyarakat dapat melaporkan ke nomor call center yaitu 085399977401 jika melihat ada buaya di sekitar aktivitas masyarakat. Agar kejadian begini bisa cepat penanganannya,” sebut Mulyadi.

Salah seorang warga Towale, Arham kepada Radar Sulteng mengatakan, karena khawatir dan tidak ingin ada warga jadi korban dimangsa buaya, sehingga warga berinisiatif menangkap buaya yang diduga berasal dari Sungai Palu itu.

“Ada warga yang lihat di laut, dekat dari pemukiman. Ramai-ramailah kami menangkapnya,” kata Arham.

Sehari sebelum penangkapan buaya super besar itu, Minggu pagi (22/4), warga Donggala khususnya Kecamatan Banawa sudah digegerkan penampakan seokor buaya berukuran cukup besar di perairan hutan mangrove Kelurahan Kabonga Besar.

Munculnya buaya itu membuat jalanan ramai oleh warga sekitar dan pengendara yang melintas. Tak sedikit warga dan pengendara yang mengabadikan kejadian tersebut.

Malam hari, buaya itu kembali muncul di peraiaran sekitar Kelurahan Labuan Bajo yang tak jauh dari tempat Pendaratan Ikan (TPI). Reptil ini kembali menghebohkan warga, Senin (24/4), di pesisir pantai Desa Towale.

Karena dianggap membahayakan, warga Towale kemudian menangkap buaya tersebut dan mengikatnya. Buaya itu ditangkap warga sekitar pukul 10.00 pagi setelah warga lainnya melihat buaya itu berada tak jauh dari tempat anak-anak berenang di pantai.

Proses penangkapan buaya itu memakan waktu cukup lama karena buaya tersebut terus berontak dengan memutar badannya saat hendak ditangkap.

Setelah berhasil ditangkap, buaya tersebut lalu ditarik warga ke daratan dan diikat di pohon bakau di belakang rumah warga.

Warga Towale mengakui baru kali ini ada buaya di pesisir laut Towale. Dia berharap pihak terkait segera mengevakuasi buaya tersebut. “Tadi ada petugas yang datang. Saya berharap buaya ini segera dipindahkan ketempat yang lebih aman,” ujar Arham.

Pantauan lokasi buaya setelah ditangkap tidak jauh dari jalan raya, dan dipadati masyarakat sekitar desa Towale dan masyarakat yang kebetulan melintas. Tanpa rasa takut warga melihat dari dekat dan ramai-ramai memotret dan merekam video menggunakan ponsel masing-masing. Sesekali ada yang memanfaatkan keberadaan reptil yang hidup di dua alam ini dengan berswafoto.

Sesekali juga buaya tersebut bergerak mencoba melepaskan diri dari tali yang melilit tubuhnya dan dikaitkan di pohon bakau. Beberapa orang terlihat membawa dua ekor ayam untuk buaya, berharap bisa menjadi makanan buaya agar tidak mati kelaparan.

Salah seorang warga Didi ditemui usai mencoba memberi makan buaya, mengatakan, sejumlah nelayan melihat buaya tersebut ada di laut sekitar pukul 09.00 wita. Kebetulan pada saat itu banyak anak-anak mandi di laut, khawatir buaya memakan korban, masyarakat dan nelayan inisiatif menangkapnya.

Pukul 09.30 dengan menggunakan 12 perahu nelayan, atau biasa disebut katinting yang diisi 20 orang secara bersama-sama mengepung buaya tersebut dan selanjutnya diarahkan mendekat ke darat.

“Berjarak 100 meter buaya dari laut, kita pasang jerat, terbuat dari bambu ujungnya dilekankan tali tambang (tali rompong) yang telah disimpul, saat mulutnya terbuka langsung dijerat, dan langsung kena,” ucapnya.

Proses penangkapan buaya menurutnya sangat singkat, karena kerja tim. Setelah ditangkap buaya tersebut lalu ditarik ke darat dan diikat pada pohon mangrove dekat jalan raya.

Dindi mengatakan, setelah di ukur buaya tersebut memiliki panjang 4.5 meter. Hasil ini sebelum tim dari Balai KSDA melakukan pengukuran kembali. Dan warga setempat memperkirakan berjenis kelamin betina.

“Dari pada memakan anak-anak mending ditangkap,” ujarnya.

Buaya ini merupakan buaya pertama yang ada di Desa Towale dengan ukuran besar, yang ukuran kecil sudah sering ditangkap nelayan masuk keramba ikan. Jika Balai KSDA tidak memiliki tempat penangkaran buaya, masyarakat Towale bersedia membuat penangkaran buaya di desa mereka, selain menjadi objek wisata juga dapat meningkatkan perekonomian warga.

“Kalau tidak diambil ini, kita mau buat penangkaran di seberang jalan lokasi buaya ini, lumayan jadi tempat wisata,” ungkapnya.

Sementara Arfiani warga desa Loli Dondo mengatakan, pada Minggu pagi tepatnya pukul 07.30 melihat buaya tersebut berenang di laut belakang rumahnya menuju Kota Donggala.

“Buaya ini sudah, dari jauh terlihat putih kulitnya,” ucapnya.

Arfiani juga menegaskan, jika sering tertangkap nelayan di keramba ikan, buaya dengan ukuran kecil, memakan cumi dan ikan yang masuk keramba. Namun dilepaskan kembali ke laut tidak dibunuh dan ditangkap.

“Pernah juga ukuran besar, sekitar 2.5 meter, di ujung desa Loli Dondo ini, nelayan lihat, dan ramai ramai disenter digiring kembali ke arah Palu dan tidak ditangkap,” sebutnya. (ujs/umr/acm)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.