dr Ardiyanto: Terbitnya Visum Bukan Atas Nama Personal

0
240

Hak Jawab

PALU  – Dokter pada Rumah Sakit Umum (RSU) Anutapura, dr Ardiyanto P yang sebelumnya dituding dan dilaporkan ke Polda Sulteng, atas perkara pemalsuan surat, akhirnya memberikan tanggapannya.

Hal ini disampaikan Ardiyanto lewat surat tertanggal 26 April, yang kemudian baru diterima Redaksi Radar Sulteng pada Kamis (3/5) kemarin.

Dalam suratnya Ardiyanto dengan tegas menyebutkan, bahwa fakta administratif, terbitnya Visum et Repertum (VeR) bukan atas nama personal, melainkan resmi atas nama institusi.  Hal itu kata dia, sesuai dengan VeR dimaksud, tertulis “atas nama Direktur RSU Anutapura Palu”, dicap  Rumah Sakit dan Diterbitkan resmi menggunakan kop surat.

Dalam hak jawabnya, Ardiyanto pun keberatan jika namanya dikaitkan dengan tudingan memalsukan visum. Dia juga menegaskan, bahwa keabsahan formal dan materiil VeR ini, adalah benar telah diperiksa, diklarifikasi dan dikonfirmasi dalam persidangan Tindak Pidana Penganiayaan di Pengadilan Negeri Palu, pada tanggal 26 September 2017.

“Saat itu saya hadir sebagai saksi berdasarkan surat dari Kasi Tindak Pidana Umum disertai disposisi surat tugas Direktur RSU Anutapura Palu. Bagaimana pertimbangan majelis hakim terhadap VeR tersebut dapat diketahui dalam putusan Nomor 317/Pid.B/2017/2017/PN.Pal yang dibacakan pada tanggal 28 November 2017. Putusan Pengadilan Negeri Palu tersebut juga telah diperkuat dengan putusan pengadilan tinggi Sulteng nomor 4/PID/2018/PT PAL Tahun 2018 pada tanggal 13 Februari 2018,” jelasnya.

Diakhir surat tersebut, dia juga mengutip, pernyataan pada bagian penutup VeR, bahwa “Demikian VeR ini dibuat dengan sebenarnya di atas sumpah jabatan dokter dan berdasarkan hukum yang berlaku”.

Sebelumnya diberitakan, dr Ardiyanto dilaporkan oleh Tonny Satya Mangitung ke Polda Sulteng, atas tudingan pemalsuan surat laporan visum et repertum (VeR). Laporan polisi sendiri, dilayangkan Tonny pada 5 April 2018 lalu, di Polda Sulteng, dengan nomor laporan polisi : LP/172/IV/2018/SPKT.

Dugaan pemalsuan itu kata Tonny, bahwa apa yang tercantum dalam VeR, nomor 353/33/V/2017/RSU, ditandatangani oleh dr Ardiyanto P yang juga melakukan visum terhadap Septina F Mangitung, dinilai tidak sesuai dengan aturan pembuatan VeR. “Atas VeR yang tidak sesuai aturan itu lah, yang dijadikan sebagai bukti  untuk menjerat saya hingga memberatkan hukuman dalam kasus dugaan penganiayaan yang dituduhkan kepada saya,” terang Tonny.

Menurut Tonny, Banyak kejanggalan di dalam VeR yang dibuat oleh terlapor dr Ardiyanto, di mana seharusnya VeR dibuat atas dasar apa yang dilihat dan ditemukan oleh dokter kepada pasien yang diperiksanya, bukan berdasarkan keterangan dari pasien. Anehnya, menurut Tonny, dalam surat VeR, yang dibuat oleh dr Ardiyanto, pada point 1 menyebutkan bahwa dokter menemukan luka dan nyeri di wajah hidung serta pusing setelah dipukul (tinju tangan).

“Di poin 1 ini sudah sangat jelas betapa tidak objektifnya VeR yang dibuat dokter tersebut, yang disampaikannya di dalam VeR tersebut bukan apa yang dilihat, karena dia menyebutkan nyeri dan pusing setelah dipukul, itu berdasarkan keterangan pasien,” ungkap Tonny.

Pihak terlapor sendiri dalam hal ini dr Ardiyanto, juga telah dikonfirmasi sebelum berita ini naik cetak pada Rabu, 18 April 2018. Ketika dihubungi melalui nomor ponselnya, dia mengaku, belum mau menanggapi terkait apa yang dituduhkan Tonny terhadap dirinya. Ardiyanto juga mengatakan, belum mengetahui dan mendapat informasi resmi bahwa dirinya dilaporkan ke Polda oleh Tonny. “Itu kan persepsi dia. Nanti lah saya tanggapi kalau sudah ada panggilan dari penyidik,” singkat dr Ardiyanto saat dikonfirmasi. (agg)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.