Ini Empat Calon Rektor Untad

0
621

PALU – Empat calon Rektor Universitas Tadulako, akhirnya ditetapkan Rabu (2/5) lalu. Penetapan sendiri, sedikit lebih cepat dari yang dijadwalkan sebelumnya pada 7 Mei, disebabkan adanya agenda Untad yang lain,berdekatan dengan jadwal yang ditentukan. Para calon Rektor ini pun, selain ditetapkan juga mengambil nomor urut untuk pemilihan Rektor mendatang.

Empat orang bakal calon rektor Untad saat pengambilan nomor urut dan penetapan beberapa waktu lalu. (Foto: Humas Untad)

Keempat calon itu, masing-masing ; Dr Muhammad Nur Ali yang merupakan Dekan FISIP, kedua yaitu Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan Prof Dr Mahfudz, ketiga Prof Djayani Nurdin Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, dan nomor urut empat yaitu Prof Zainuddin Basri PhD yang merupakan Dekan Fakultas Pertanian.

Para calon tersebut masih akan melewati penyaringan untuk mendapatkan tiga nama calon Rektor melalui penyampaian visi misi dan program kerja di hadapan rapat senat terbuka dan dihadiri pejabat Kemenristekdikti, yang rencananya berlangsung pada tanggal 23 Mei mendatang.

“Pada tanggal 23 nanti adalah penyaringan, karena ini melibatkan pejabat kementerian, maka tidak bisa kita patok pasti tanggal 23, artinya yang tanggal 7 saja belum melibatkan pusat masih bisa berubah, apalagi yang melibatkan pusat, namun mereka sekedar meninjau, mereka tidak punya hak suara untuk ikut menyaring, tapi punya hak untuk bertanya terkait visi misi bakal calon,” ungkap ketua senat Untad, Prof Hasan Basri MA PhD, ditemui diruangannya, Jumat (5/4).

Kedepan tambah Prof Hasan Basri, pihaknya sangat berharap, pemilihan rektor dapat berlangsung aman dan damai, tidak perlu hingar bingar seperti Pilkada atau Pilpres, justru jika memungkinkan pemilihan bisa dilakukan secara mufakat, namun ini demokrasi, sehingga harus dilakukan pemilihan, apalagi itu sudah menjadi peraturan.

“Yah kalau tidak mufakat tentu diadakan pemilihan kan, tapi usaha kita dulu adalah mufakat, kalau tidak, dilakukan pemilihan, tapi itu tadi, bahwa saya mau kita aman dan damai saja, tidak usah ada gesekan sana sini, ini dalam pilkada juga sedapat mungkin kita hindari gesekan itu, apalagi dalam wilayah kita sendiri,” jelasnya.

Karena pada dasarnya kata dia, menjabat di kampus beda dengan instansi lain, di kampus hari ini top puncak atau menjabat rektor, ketika nanti habis masa jabatan, sudah akan kembali menjadi dosen biasa, sehingga bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan yang justru merusak kedamaian dan keamanan. (ika)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.