Urus KTP Setelah Berumur 60 Tahun agar Bisa Menikah untuk Pertama Kali

0
119

Kesibukan masyarakat, kerap kali mengabaikan pengurusan data kependudukan. Hal ini menyebabkan, banyak warga yang belum memiliki KTP hingga akte kelahiran. Adanya Program Gerakan Indonesia Sadar Administrasi (Gisa), membuat sejumlah warga semangat untuk ikut melakukan pengurusan dokumen kependudukan.

Laporan : ADI NUR ALIM, Tanamodindi

Saryansyah (60) saat melakukan pengetesan mata untuk pembuatan E-KTP di kegiatan GISA yang dilangsungkan di Lapangan Walikota Palu pada Jumat (11/5). (Foto; Mugni Supardi)

LAPANGAN Vatulemo, siang itu dihiasi tenda-tenda terowongan, berukuran besar. Di dalamnya, tampak warga yang duduk dengan tertib. Bukannya ada hajatan atau pesta akbar, warga yang memadati tenda-tenda itu, tengah mengatre untuk dipanggil melakukan pengurusan data kependudukan.

Tidak sama jika mengurus di Kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) yang memakan waktu lama, di Lapangan Vatulemo ini, warga dari berbagai daerah di Sulawesi Tengah, dengan cepat sudah bisa terlayani asalkan persyaratan yang lengkap. Kegiatan ini merupakan program dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) yang diberi nama Gisa singkatan dari Gerakan Indonesia Sadar Administrasi.

Sementara itu, di tempat perekaman KTP Elektronik (E-KTP), wartawan Radar Sulteng mendapati Saryansyah (60) yang ternyata adalah mantan penyandang kebutaan atau tuna netra yang telah dioperasi mata. Kepada wartawan, Saryansyah mengakui bahwa nanti sekarang baru mengurus berkas-berkas kelengkapan untuk pembuatan E-KTP.

“Saya dari Sirenja kemari hanya untuk mengurus pembuatan KTP ini, karena kesibukan saya yang sehari-hari sebagai petani dan repotnya mengurus berkas pembuatan KTP ini, makanya saya urungkan hingga saat ini dan juga saya tidak punya kepentingan saat itu sehingga harus cepat-cepat mengurus KTP. Nanti keponakan saya yang kasih tahu kalau ada pelayanan KTP gratis dan serentak maka saya langsung kemari,” ujarnya.

Petani yang membujang selama 60 tahun ini mengungkapkan bahwa alasan paling utama untuk datang mengurus KTP di Lapangan Vatulemo tersebut adalah untuk mengurus berkas-berkas untuk pembuatan buku nikah. “Saya juga mengurus KTP ini sebenarnya untuk mengurus persyaratan buku nikah, karena saya sudah mau menikah untuk pertama kalinya, bukan menambah istri, tapi baru mau menikah, kalau bukan karena itu, mungkin tidak tergerak hati saya untuk datang kemari,” ungkapnya sambil tertawa.

Pria yang juga mengalami kesulitan saat pengetesan mata untuk perekaman E-KTP ini menerangkan, bahwa dia rela meninggalkan aktifitasnya sebagai petani beberapa hari ini demi untuk mengurus data kependudukan tersebut.

“Saya yang saat ini hidup pas-pasan, rela meninggalkan kerja di kampung, demi mengurus E-KTP ini. Kalau tidak, bisa-bisa saya tidak jadi menikah karena persyaratan administrasi tidak ada,” terang bapak yang tidak lama lagi akan melangsungkan pernikahan dengan perempuan berumur 40 tahun yang berlokasi di wilayah Parimo itu.

Ditemui terpisah, Samsu (59) petani yang berasal dari Desa Tonggolobibi, Kabupaten Donggala mengalami kesulitan saat ingin mengurus kartu keluarga (KK) dengan tujuan mengubah alamat atau dengan memperinci alamat yang ada di KK miliknya. Samsu mengeluhkan, karena pihak Dukcapil memberitahu bahwa alamatnya tersebut tidak bisa diperinci lagi.

“Padahal saya hanya ingin memperinci alamat saya yang sebelumnya hanya tertulis di Donggala, saya ingin menambahkan lebih rinci lagi di Desa Tonggolobibi, agar saat dalam pemeriksaan di desa saya oleh aparat desa setempat, tidak ditanyai lagi alamat saya di Donggala bagian mana, karena Donggala ini banyak, tapi petugas dukcapil yang saya temui tadi, tetap bilangnya tidak bisa diubah,” keluhnya.

Terpisah, Direktur Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Prof Dr Zudan Arif Fakrulloh SH MH mengatakan, tujuan dari GISA ini adalah untuk melayani administrasi kependudukan menuju masyarakat yang bahagia.

“Selain itu, kita ingin memberitahu kepada masyarakat secara tidak langsung bahwa pentingnya memiliki dokumen kependudukan, pentingnya pemanfaatan data kependudukan untuk semua kepentingan dan juga untuk melakukan update data kependudukan,” katanya.

Zudan menambahkan, jangan sampai masyarakat ketinggalan momen untuk mengurus data-data kependudukan. Hal ini dikarenakan pengurusan berkas-berkas lainnya dari pemerintah diharuskan menggunakan data kependudukan yang sudah dibuat atau di-update.

“Seperti yang kita tahu pembuatan BPJS, Paspor, SIM dan berkas lainnya harus menggunakan data dari Dukcapil. Sementara itu kami juga merespon bahwa ada yang bilang kenapa blangko e-KTP sering kosong. Kami jawab sekali lagi bahwa blangko tidak ada yang kosong, semuanya tersedia hingga tahun 2019 nanti,” tambahnya. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here