Asas Manfaat Rumah Adat Anjungan Gonenggati Dipertanyakan

0
291
Inilah enam unit rumah yang dibangun di sekitar Anjungan Gonenggati. Namun, rumah yang memakan anggaran hampir Rp 1 miliar ini menuai protes dan pertanyaan terkait asas manfaatnya. (Foto: Ujang Suganda)

DONGGALA Sejak dibangun pada tahun 2017 lalu, 6 unit rumah adat yang terletak di sekitar Anjungan Gonenggati belum difungsikan sama sekali. Hal itu menimbulkan banyak pertanyaan terkait asas manfaat dibangunnya rumah bernuansa adat tersebut.

Bahkan tahun 2018, pembangunan rumah adat kembali dilanjutkan. Sedikitnya ada 10 unit lagi yang akan dibangun. Lokasinya tak jauh dari enam unit yang sebelumnya dibangun. Pembangunan 10 unit rumah adat itu menelan anggaran sekitar Rp 1,7 miliar.

Beberapa pihak menilai, pembangunan rumah adat mubazir. Salah satunya dari ketua Forum Pengusaha Donggala, Heri. Dia menuturkan, pihaknya tidak anti terhadap pembangunan. Namun pembangunan yang dilakukan harus melihat asas manfaatnya. “Mungkin baiknya anggaran tahap II pembangunan rumah adat itu dialihkan ke tempat lain yang lebih menyentuh kebutuhan masyarakat luas,” ungkapnya.

Namun ternyata pembangunan rumah adat tahap II itu telah selesai di tender. Nama perusahaan pemenang tender juga sudah keluar. Rencananya dalam waktu dekat pembangunannya sudah akan dilaksanakan.

Hal itu dibenarkan oleh Kepala Bidang (Kabid) Destinasi Pariwisata Dinas Pariwisata Donggala, Muhammad Zain. Pada bulan Ramadan ini rencananya pembangunan sudah akan mulai dilaksanakan. Zain juga mengaku memang hingga saat ini rumah adat belum difungsikan. “Iya memang belum difungsikan,” katanya.

Meski belum difungsikan, menurut Zain, rumah adat itu tetap memiliki asas manfaat. Kata Zain, ketika semua rumah adat telah terbangun, maka selanjutnya akan diserahkan kepada masing-masing kecamatan untuk digunakan. Salah satu fungsinya kata Zain untuk tempat menginap masing-masing kecamatan jika nantinya ada even atau kegiatan yang digelar di ibu kota Donggala. “Kalau misalnya nanti ada kegiatan di kota, Kecamatan yang jauh bisa menggunakan rumah adat itu untuk menginap,” katanya.

Menurut Zain, enam unit rumah adat itu saat ini juga belum diserahkan kepada pihak kecamatan. Penyerahannya kata Zain, secara bersamaan akan dilakukan setelah 10 unit rumah adat itu selesai dibangun. Saat ini menurut Zain, fasilitas pendukung seperti lampu, kasur maupun kursi belum ada di dalam rumah adat itu. “Sekarang kondisinya masih kosong. Airnya saja belum masuk. Kita masih menunggu air dari PDAM Donggala. semua rumah adat itu akan berfungsi, ” tandasnya.(ujs)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.