Gara-gara 43 Ekor Ternak Tidak Disalurkan, Mantan Kadis Peternakan Poso Terjerat Hukum

0
153

PALU – Penuntut umum Kejaksaan Negeri (Kejari) Poso, telah menitipkan penahanan terdakwa Drs Christoverus Ntaba MM, di Rumah Tahanan (Rutan) Klas II A Palu di Jalan Bali, Kota Palu, sejak sekitar sepekan yang lalu.

Ilustrasi (@jpg)

Mantan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Poso ini, tengah terjerat masalah hukum. Dia diduga melakukan tindak pidana korupsi (tipikor) proyek pengadaan bibit sapi dan kerbau Tahun Anggaran (TA) 2014-2015. Atau saat dirinya masih menjabat.

Dari Kabupaten Poso kemudian dia dititipkan di Rutan Klas II A Palu, untuk mempermudah kelancaran proses persidangan. Karena, satu-satunya pengadilan yang memeriksa dan mengadili  pelaku tipikor di Sulteng hanyalah Pengadilan Negeri (PN) Klas IA/PHI/Tipikor Palu.

“Dugaan kerugian negara yang timbul dalam perkara dugaan korupsi terdakwa atas nama Christoverus Ntaba, sebesar Rp396 juta, dari 43 ekor ternak yang tidak disalurkan,” ungkap Humas PN Klas IA/PHI/Tipikor Palu, dikonfirmasi pekan kemarin.

Sebentar lagi terdakwa Christoverus Ntaba akan duduk  di kursi pesakitan guna mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Pihak PN Klas IA/PHI/Tipikor Palu, sudah menerima berkas perkara terdakwa, dari jaksa penuntut umum sejak (22/5).

Kepaniteraan tipikor pengadilan di Palu itu, juga telah mendaftarkan perkara tipikor Christoverus Ntaba. “Pekaranya terdaftar dengan Nomor : 21/Pid.Sus-TPK/2018/PN PAL, tertanggal 22 Mei 2018,” kata Lilik sapaan akrab mantan hakim PN Manggala Lampung.

Diungkapkan Lilik, setelah didaftarkan, Ketua Pengadilan telah menerima berkas perkara itu, dan telah mengeluarkan penetapan para majelis hakim yang akan memeriksa dan mengadili perkara itu.

Sebagai ketua majelis hakim yakni Elvin Adrian SH MH, dua hakim anggotanya yakni, Darmansyah SH MH dan, Bonifasius N Aribowo SH MH. “Majelis hakimnya juga sudah menetapkan jadwal sidang perdananya pada tanggal 31 Mei 2018,” ungkap Lilik lagi.

Lilik menguraikan, kerugian negara sebesar Rp396 juta timbul karena perbuatan terdakwa dalam proyek pengadaan sapi dan kerbau tahun anggaran 2014-2015.  Ketika masih menjabat sebagai kadis, terdakwa diduga menyalahgunakan wewenang untuk memperkaya diri sendiri. Sebanyak 43 ekor ternak tidak disalurkan ke kelompok tani melainkan diambil sendiri.

Perbuatan itu dilakukan dengan cara mengambil dan tak menyalurkan beberapa ekor sapi serta kerbau ke kelompok sasaran. Bahkan ada beberapa ekor sapi dan kerbau yang disalurkan tidak kekelompok ternak yang semestinya sebagaimana Surat Keputusan (SK) Bupati Poso saat itu.

“Di dalam uraian surat dakwaan yang terlampir dalam berkas perkara, Christoverus Ntaba ini, didakwa mengambil satu hingga dua ekor sapi dari setiap kelompok tani,” sebutnya.

Proyek pengadaan sapi dan kerbau di tahun itu anggarannya sebesar Rp 1,8 miliar. Jumlah keseluruhan sapi dan kerbau yang harus disediakan 130 ekor, betina maupun jantan. Penerima bantuan kala itu berjumlah 15 kelompok. Dari total itu, ternak bantuan yang diambil terdakwa guna memperkaya dirinya sendiri sebanyak 43 ekor ternak.

“Dalam perkara ini terdakwa dijerat atau didakwa Primer Pasal 2 dan Subsider Pasal 3 Undang-undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi,” tandas Lilik. (cdy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.