Dugaan Malapraktik, dr Heryani Menangis Bacakan Pembelaan Pribadinya

0
720

PALU – Sebelum membacakan nota pembelaanya, secara khusus dr Heryani lebih dulu meminta izin kepada ketua majelis hakim Aisa H. Mahmud, agar diberi izin untuk sungkem kepada ayahnya, yang disidang lanjutan kasus dugaan malapraktik itu hadir untuk mengikuti jalannya persidangan.

Terdakwa Heryani ketika memeluk ayahnya dalam persidangan sebelum membacakan pledoi pribadinya. (Foto: Sudirman)

Dengan berurai air mata, dia kemudian memeluk erat orang tuanya yang saat itu duduk di kursi tamu persidangan. Setelah itu baru kemudian membacakan pembelaan pribadinya.

Di hadapan majelis hakim, Heryani menyimpulkan bahwa berdasarkan saksi-saksi, keterangan ahli terungkap dalam persidangan serta dari perundang-undangan berlaku, bahwa seluruh ketentuan yang harus dilaksanakan dalam penanganan pasien Secsio Caesaria dan ikat kandungan (kontap) telah dilakukan sesuai standar profesi, standar pelayanan Rumah Sakit Umum (RSU) Anutapura Palu dan SOP penanganan pasien.

Kata dia, standar pelayanan rumah sakit menyatakan penanganan pasien masuk IGD dilakukan secara kolektif dan berjenjang sesuai dengan kompetensi sumber daya tenaga kesehatan yang ada.

Untuk itu Heryani memohon kepada majelis hakim dapat mempertimbangkan kebebasannya sebagai seseorang yang didakwa oleh penegak hukum, hanya karena akibat pemahaman terbatas atas kejadian, melihat hanya dari kacamata pidana secara sangat kasar pada orang seperti kami bekerja untuk kemanusiaan.

Sementara nota pembelaan dibacakan penasehat hukum terdakwa, Andi H. Makkasau bersama timnya pada pokoknya mengatakan, keterangan ahli dihadirkan di persidangan, Dr Alfreth Langitan, selaku Ketua MKEK wilayah Sulawesi Tengah dan Dr Jhon Abas Kaput, secara spesifik menerangkan berdasarkan kesimpulan MKEK dalam pemeriksaan dugaan pelanggaran etika kedokteran oleh terlapor dr Heryani Parewasi tidak ditemukan pelanggaran etika berdasarkan pencermatan standar profesi dan SOP.

“Bahkan lebih jauh DR Jhon Abas Kaput menerangkan faktor pendarahan paska persalinan adalah hal biasa dan normal bagi ibu melakukan persalinan baik dengan cara normal maupun operasi cesar. Tindakan pembersihan terhadap plasenta akreta, yang menempel di dinding rahim bersifat keharusan untuk menghentikan pendarahan dari kontraksi rahim yang kurang aktif,” urai Andi H Makkasau.

Sehingga kata dia, setelah pembersihan sisa plasenta akreta tersebut, rahim dapat memulihkan terbukanya jaringan darah pada otot rahim agar pendarahan terhenti.

Lanjut Andi Makkasau mengatakan, terkait dengan penyebab pasti kematian dari pasien secara yuridis Ahli Hukum pidana DR Arief Setiawan menyatakan satu-satunya jalan untuk menentukan sebab kematian, adalah dengan melakukan otopsi (bedah mayat).

Pembacaan nota pembelaan ini membutuhkan waktu sekitar 2 jam, dalam sidang agenda pembelaan tersebut ruang sidang hampir separuhnya dipenuhi oleh rekan-rekan terdakwa sesama dokter, bahkan dalam raung sidang yang penuh tersebut terlihat Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu dr Royke Abraham. Kehadiran mereka untuk memberikan dukungan moral kepada terdakwa.

Diketahui JPU, Burhan menuntut pidana penjara 1 tahun kepada dr Heryani Parewasi terdakwa malapraktik di RSU Anutapura Palu, yang menyebakan pasien Nur Indah Restuwati meninggal dunia beberapa waktu silam. Terdakwa terbukti bersalah melanggar pasal Pasal 359 KUH Pidana Jo. 361 KUH Pidana. (cdy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.