Sudah Cabut Laporan, Pelaku KDRT Ditahan Lagi

0
128

PALU – Rabu siang (30/5) Lenny Rumpang ibu rumah tangga (IRT) mengaku resmi mengajukan surat pengaduan ke Polda Sulteng.

Dengan didampingi kuasa hukumnya, warga di Jalan Rajawali, Kota Palu ini, mengadukan tindakan diskriminasi dan dugaan pemerasan yang dilakukan oknum penyidik di Unit PPA Polres Palu.

“Oknum polisi itu inisial TA, di bagian PPA Polres Palu,” ungkapnya usai dari Polda Sulteng.

Di dalam suratnya tertuang kronologis kejadian hingga dirinya menjadi korban dugaan pemerasan, dimintai uang oknum tersebut. Selain ke Kapolda Sulteng, surat pengaduannya itu juga ditembuskan kepada beberapa lembaga negara lagi, termasuk Mabes Polri dan Kompolnas di Jakarta.

“Ada empat poin permintaan klien kami. Semoga segera ditindak lanjuti. Nanti kami akan melaporkan resmi pula,” kata Syaifuddin SH, kuasa hukum Lenny Ruppang.

Lenny Rumpang menceritakan menjadi korban pemerasan dari oknum polisi. Awalnya 14 Mei 2018, dia melaporkan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dengan terlapor adalah Fandi Moningka, suaminya sendiri. Dua hari kemudian suaminya ditahan atas laporannya tersebut.

“Suami saya ditahan 1 malam. Karena masih sayang tanggal 17 Mei 2018 saya mencabut laporan itu, dan pencabutan laporan resmi saya tanda tangani di atas materai 6000. Oknum TA inilah yang terus mengurusi laporan saya saat itu,” terangnya.

Hari itu juga, Lenny bersama suaminya telah kembali ke rumah. Namun entah karena apa, hari itu juga oknum TA, kembali mendatangi dan memanggil keduanya yang sudah sejam berada di rumah. Mau saja memenuhi panggilan itu, Lenny dan suaminya kembali ke Polres .

“Alasan oknum ini saat datang memanggil kami di rumah, katanya ada  satu lagi yang mau ditanda tangani. Tapi sampai di Polres saya sama suami malah di BAP, selanjutnya suami saya kembali ditahan,” keluh Lenny.

Dari saat itu hingga saat ini Lenny pun heran dengan sikap kepolisian yang ditunjukkan oknum TA itu. Suaminya saat ini masih ditahan. Pemerasan yang dialaminya terjadi di ruang PPA Polres Palu, tanggal 25 Mei 2018, atau saat dia membawakan bukti surat yang diminta oleh oknum TA tersebut.

“Oknum TA ini,  bilang kalau suami saya akan dibantu dan akan dikeluarkan hari senin tanggal 28 Mei 2018. Dihari itulah saya dimintai uang, awalnya Rp 5 juta, naik jadi Rp 30 juta, kemudian turun Rp 25 juta,” cerita Lenny.

Ditanya apa alasan oknum tersebut saat meminta duit, kata Lenny menurut oknum anggota itu untuk operasional dan akan dibagikan kepada Kapolres dan atasannya kasat serta anggota yang lain di unit itu.

“Paling lambat kata oknum TA ini uang itu diserahkan Senin tanggal 28 Mei 2018,” bebernya.

Kronologis kejadian itupun juga tertuang dalam surat pengaduannya. Empat poin dalam surat pengaduannya itu, pada dasarnya mengharapkan agar Polda Sulteng, segera menyikapi kasusnya itu. Memanggil oknum tersebut untuk diperiksa, dan dia juga meminta agar bapak Kapolda Sulteng melepaskan suaminya yang laporan kasusnya telah dicabut resmi.

Dihubungi terpisah Kasat Reskrim Polres Palu, AKP Holmes Saragi menegaskan, bahwa apa yang sudah dinyatakan oleh salah seorang yang mengaku korban dalam pencabutan laporan itu tidaklah benar, bahwa tidak benar anggotanya meminta uang pencabutan laporan.

“Kalau mau melaporkan kami itu sudah hak mereka, dan lebih bagus bila membuat laporan resmi,” ungkapnya.(cdy/who)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.