Melihat Salah Satu Alquran Tertua di Indonesia yang Dipajang di Museum Sulteng

0
240

Penyebaran Islam di Kota Palu bermula di abad ke-17 oleh Datuk Karama. Setelah itu, al-quran yang ditulis tangan ini tiba juga di Kota Palu, bagaimana sejarah dan kondisinya saat ini?

Laporan: Mugni Supardi, Kamonji

Salah satu alquran tertua di Indonesia yang ditulis tangan dipajang di Museum Sulawesi Tengah, di Jalan Kemiri, Kamonji, Palu Barat, belum lama ini. (Foto; Mugni Supardi)

SIANG sekitar pukul 12.00 wita, Kamis (31/5) lalu, Radar Sulteng menunggu beberapa saat sebelum bertemu salah seorang peneliti di Museum Sulawesi Tengah di Jalan Kemiri, Kelurahan Kamonji, Kecamatan Palu Barat. Dari informasi petugas yang sedang berjaga saat itu, bapak ini yang mengetahui seluk beluk terkait alquran yang ditulis dengan jari-jemari sejak ratusan tahun silam ini.

“Alquran ini murni dibuat ditulis dengan tangan,” kalimat pertama dari Drs Iksan, peneliti tersebut kepada Radar Sulteng.

Alquran ini masih memakai kaligrafi yang mulai berkembang di Indonesia pada saat Islam masuk di Nusantara abad  ke-13 ke atas. Di setiap pergantian juz ditandai dengan hiasan atau kaligrafi khusus, bahkan setiap juz berbeda hiasannya dan itu semua dibuat dengan tangan. Motif hiasan pada alquran yang diperkirahkan berusia di atas abad ke-17 atau kurang lebih 150 sampai 200 tahun ini menggunakan motif lokal, misalnya motif sulur daun. Iksan menjelaskan, Islam masuk di Indonesia bercampur dengan kebudayaan lokal, sehingga penulisan-penulisan alquran di awal-awal perkembang Islam merupakan motif-motif lokal, begitu juga dalam hiasan penulisan kaligrafi di alquran saat itu.

“Di pertengahan halamannya hampir penuh dengan hiasan,” terang pria Magister Hukum ini.

Yang istimewanya lagi, alquran ini ditulis pada bulan suci ramadan, sesudah salat Ashar pada hari Jumat. Ini diketahui sebagaimana tertulis pada bagian lembaran akhir pada alquran. Tetapi penulisnya siapa?, itu yang masing menjadi tanda tanya hingga saat ini. Di dalam lembaran akhir dari alquran ini tertulis sebuah inskripsi yang sangat sulit untuk dibaca, menurut Iksan itu nama dari sang penulis.

Akan tetapi jika dilihat dari bahasa inskripsi ini menggunakan bahasa arab melayu. Sehingga kemungkinan besar penulis alquran ini ialah orang-orang melayu.

“Jadi, itu sangat beralasan. Karena memang Islam awal masuk ke lembah Palu khususnya itu memang berasal dari ulama-ulama dari Minangkabau,” sebut pria suku Kaili ini.

Iksan juga mengakui kemungkinannya alquran ini di bawah dari kampung halaman Datuk Karama. Akan tetapi, alquran ini periode setelah Datuk Karama, bukan di masa abad ke 17, dimana awal penyebaran Islam dari Datuk Karama.

Dia memperkuat alquran ini dibuat setelah abad ke-17 karena dengan melihat dari segi kertas yang digunakan. Pria lulusan S1 jurusan Arkeolog Universitas Hasanuddin Makassar ini menyebutkan kertasnya merupakan kertas lokal buatan, bukan dari pabrik. Biasanya cetakan alquran yang menambangkan logo pabrik di akhir lembarannya, di alquran ini tidak ditemukan. Untuk sampulnya dia belum memastikan, diduga dari kulit binatang atau bisa jadi sejenis kulit kayu.

“Alquran ini sudah beberapa kali juga diteliti oleh Badan Penelitian dan Pengembangan di Kementerian, seperti gaya tulisannya dan inskripsi yang sudah tidak bisa dibaca itu,” terang Iksan.

Asal alquran ini kata Iksan semakin dikuatkan berasal dari pulau Sumatera, dimana asal kampung dari Datuk Karama. Mengapa Sumatera, karena di dalam inskripsi dilembaran terakhir alquran, menurutnya ada tertulis kata Tengku atau Teuku yang dulu identik dengan seorang bangsawan berasal dari Sumatra kala itu. Namun kata lanjutannya yang diduga nama dari si penulis sudah tak terbaca dengan jelas.

“Alquran ini kemungkinannya di bawah oleh rombongan mubaligh dari pulau Sumatra,” sebut Iksan.

Sebelum di Museum Sulteng, alquran yang hampir memiliki 500 halaman lebih ini dimiliki oleh penduduk lokal Kota Palu. Usianya di museum sama seperti museum berdiri yaitu sejak 1979 silam. Alquran ini menjadi salah satu alquran tertua di Indonesia dari beberapa alquran yang jumlahnya Iksan perkirahkan tidak banyak, kurang lebih 20-an. Pada pergelaran Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) di Indonesia alquran ini selalu diikutsertakan. Ini bukan permintaan dari pihak Museum, akan tetapi datang dari panitia Kementerian Agama langsung.

“Ini salah satu alquran langka di Indonesia, masyarakat Sulawesi Tengah harus menjaga. Istilahnya tanggung jawab kita bersama,” pesan Iksan.

Di 2014 tepatnya di MTQ Kota Batam merupakan kali terakhir alquran ini dipamerkan. Pasalnya, kondisinya semakin hari sudah memprihatinkan. Pihak Museum Sulteng sudah melakukan pencegahan agar memelihara alquran langka terus terjaga dengan baik. Iksan sudah memikirkan agar bagaimana jika diminta untuk memeriahkan MTQ ke depan yaitu dengan cara digitalisasi. Sehingga alquran ini di bawah sudah dalam bentuk poster atau foto.

“Bayangkan setiap MTQ di bawah kesana-kemari, aturannya juga seperti itu tidak boleh barang yang langka kita pamerkan, karena dapat membahayakan, kalau dia benda lain bisa dibuat replikanya, ini tidak bisa,” tutur Iksan.

Di dalam museum sendiri, alquran ini selalu ditempatkan di dalam sebuah lemari sebagaimana barang langka lainnya, untuk mencegah langsung bersentuhan dengan pengunjung. Di sampingnya, terdapat satu alquran biasa hasil dari buatan pabrik. Ini berguna untuk para pengunjung membandingkan mana huruf alquran yang ditulis dari tangan, dan mana yang dihasilkan oleh pabrik.

Sedangkan untuk perawatannya sendiri di Museum ini, terutama yang jenis bahan dari kertas ancaman terbesarnya adalah dimakan rayap. Program setiap tahun yaitu melakukan konservasi. Walaupun  terbatas tenaga serta pelaratan, tetapi kata Iksan mereka menggunakan skala prioritas.

“Sebelum dia rusak kita ada tindakan pencegahan atau preventif, ada labarotorium khusus, dan juga tenaga ahli yang khusus, karena kita bekerja, dengan bahan-bahan kimia, yang sangat berbahaya tidak bisa sembarang orang,” tutup Iksan. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.