Pengalaman Pujiati, Mahasiswa Palu Jalani Ramadan dan Lebaran di Amerika Serikat

1
580

Tak terasa genap 11 bulan sudah saya tinggal di negeri Paman Sam, tepatnya di kota Columbus, Ohio. Saya saat ini sedang menempuh pendidikan pascasarjana dengan jurusan pendidikan Matematika, IPA dan teknologi (STEM) di Ohio State University berkat beasiswa dari LPDP.

Laporan : Pujiati Sari/ Ohio, Amerika Serikat

Pujiati Sari berfoto di depan papan nama Ohio State University, Amerika Serikat. (Foto: Istimewa)

BAGI saya, ini adalah perantauan saya yang pertama dan paling jauh dari kota asal saya, Palu, Sulawesi Tengah, juga jauh dari keluarga. Tahun ini sekaligus pertama kalinya saya menjalani puasa Ramadan dan merayakan Idul fitri di Amerika Serikat. Meskipun harus bertahan dengan lamanya puasa di Columbus selama 17 jam, saya merasa senang dikelilingi oleh rekan-rekan, terutama mahasiswa dari Indonesia, yang sangat suportif dan membuat momen puasa saya berwarna.

Saya memulai minggu-minggu awal Ramadan dengan menjelajah kota Columbus karena kebetulan kampus sedang libur. Jadi saya memiliki banyak waktu untuk keliling kota, menulis, dan tentunya tak lupa belajar mandiri agar tidak lupa dengan materi pelajaran. Minggu-minggu terakhir Ramadan, saya menjadi sukarelawan bersama professor dari jurusan teknik elektro mengajar murid-murid SD hingga SMA merakit alat praktikum sederhana seperti paper speaker dan wireless energy. Di waktu yang sama, saya juga mulai bekerja paruh waktu di sebuah restoran untuk mengantarkan makanan ke tamu hotel yang juga berada di area yang sama.

Awalnya sempat ragu bias bekerja di bidang pelayanan jasa seperti ini karena saya mengenakan hijab. Namun, ternyata, perusahaan yang mempekerjakan saya memperbolehkan saya bekerja dengan mengenakan hijab. Bahkan saya juga diberi waktu untuk menunaikan salat dan rekan-rekan non-Muslim menghargai saya saat sedang menjalankan ibadah puasa. Dari hal ini, saya belajar satu hal penting, yaitu kebebasan di Amerika tidaklah hanya bebas dalam mengutarakan pendapat, namun juga bebas untuk beribadah dan mengenakan simbol-simbol agama. Ini sungguh pengalaman yang membuka mata saya akan Amerika.

Setelah tinggal beberapa saat di kota Columbus, saya merasakan hidup sebagai Muslim di Ohio tidaklah sulit karena ada beberapa toko penjual bahan makanan halal dan restaurant halal. Selama bulan Ramadan, saya banyak menghabiskan waktu di Masjid  Omar saat berbuka puasa. Jaraknya Cuma lima menit naik sepeda dari apartemen saya ke masjid.

Setiap hari, pengurus masjid menyuguhkan menu berbuka khas Arab secara gratis seperti nasi briyani, sop daging kambing, ayam bakar bumbu Arab dan Daal. Namun jika sedang tidak mengikuti iftar di masjid, biasanya saya secara bergiliran dengan rekan-rekan dari Indonesia, membawa masakan Indonesia. Alhamdulillah bias mengobati kangen saya akan masakan khas Indonesia.

Bersama Warga Indonesia di Columbus

Buka bersama komunitas Muslim Indonesia di Columbus.

Saat Iftar bersama komunitas muslim Indonesia di Kota Colombus, Amerika Serikat (Foto: istimewa)

Untuk hari Idul Fitri, saya dan rekan-rekan Indonesia menjalani salat Ied di Noor Islamic Cultural Center (NICC) di Dublin, Ohio, pada jam tujuh pagi. Lokasinya kurang lebih ditempuh 20 menit dengan mobil. Saya bertemu dengan banyak orang Muslim dari berbagai etnis. Seusai salat berjamaah, kami segera kembali ke Columbus dan mengikuti acara potluck halal bilahal di pusat komunitas Buckeye Village. Potluck di sini adalah kami yang menghadiri acara masing-masing  menjadi ajang festival makanan Indonesia. Sayangnya, ketupat tidak menjadi makanan khas di sini jadi kami makan kari ayam dengan lontong. Acara ini juga menarik perhatian warga non-Muslim Indonesia untuk berkumpul demi mencicipi sajian khas nusantara yang mungkin sudah lama dirindukan.

Perayaan Idul fitri bersama komunitas Indonesia di Buckeye Village.

Saya membawa Es Doger dan Putu Palu. Putu Palu ini adalah sajian khas daerah asal saya yang mirip dengan putu bambu rasa manis gula jawa yang selama ini sudah popular. Namun, bedanya untuk Putu Palu, panganan ini terbuat dari nasi ketan yang dibentuk seperti putu dan rasanya asin pedas, disajikan dengan taburan kelapa yang diberi garam dan campuran teri pedas. Saya pikir momen ini tepat juga bila saya promosikan panganan khas Palu. Halal bihalal ini, tidak hanya tentang makanan, namun juga menjadi momen mengucap syukur atas berkat dari Allah SWT atas perlindungan-Nya selama bulan Ramadan.

Saya sungguh menikmati pengalaman pertama saya menjalani Ramadan dan merayakan Idul fitri di Amerika yang mana masyarakatnya mayoritas bukan Muslim. Walaupun saya jauh dari keluarga, namun kehangatan komunitas Muslim di Columbus sungguh sangat membantu saya melewati serunya bulan puasa menahan segala lapar dahaga dan kurang tidur selama di Amerika. Saya juga merasakan semangat kebersamaan dan berbagi yang ditunjukkan selama momen berbuka di masjid. Bagi saya, Idul fitri kali ini terasa bagai sebuah hari kemenangan karena saya mampu bersabar, melalui segala rintangan saat puasa apalagi di tengah cuaca musim panas di Ohio. Ini menjadi pengalaman yang tak akan terlupakan sepanjang hidup saya dan saya tidak sabar menantikan lagi hadirnya bulan Ramadan tahun depan. (***)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.