Hermawan, Siswa SMKN 7 Palu yang Ikut Berlayar Sebulan dengan KRI Dewaruci

0
215

Tidak semua orang pernah merasakan yang namanya berlayar. Apalagi dengan kapal kebanggaan Indonesia, yaitu KRI Dewaruci. Sensasi mengarungi lautan dengan kapal legendaris ini pun, dirasakan oleh Hermawan, siswa SMK Negeri 7 Palu, yang ikut dalam Ekspedisi Nusantara Jaya (ENJ) menggunakan KRI Dewaruci, 2017 silam.

Laporan: Adi Nur Alim

Hermawan (dua dari kanan depan) saat mengikuti Ekspedisi Nusantara Jaya (ENJ) dengan KRI Dewaruci, 2017 silam. (Foto: Istimewa)

SEBULAN merupakan waktu yang lama bagi Hermawan, siswa kelas XI SMK Negeri 7 Palu ini, untuk mendapatkan pengalaman berada di atas KRI Dewaruci menjelajahi lautan Indonesia. Siswa jurusan Nautika Kapal Penangkap Ikan ini, mengenang pengalamannya itu dan mengisahkannya kembali kepada Radar Sulteng.

Hermawan dalam misi pengenalan kemaritiman bagi para pelajar ini, tidak sendiri dari Sulteng. Dia bersama rekannya yang juga siswa SMK Negeri 7 Palu, Muhammad Taufiq Al-Haq. Untuk ikut dalam eksepedisi di KRI Dewaruci ini, ternyata tidak mudah. Awalnya Hermawan dan rekannya harus mengikuti seleksi tes pengetahuan tentang pelayaran, mental dan tes fisik. Setelah itu ketika lolos, langsung ke Jakarta untuk mengikuti tes kesehatan untuk kesiapan dalam menaiki kapal serta mengikuti karantina.

“Karantina dimaksudkan agar peserta yang telah lolos tidak kaget atau tidak takut ketika sudah berada di atas laut yang ganas nantinya. Karantina atau pembekalan ini berguna bagi saya, karena saya belum pernah naik kapal laut apalagi yang sehebat Dewaruci. Setelah mengikuti karantina, para peserta yang terdiri dari kurang lebih 68 orang, akan berlayar bersama di atas kapal selama satu bulan,” katanya.

Pelayaran Hermawan bersama Taufiq yang menjadi delegasi Sulteng, yang memiliki hewan khas yaitu burung maleo ini juga merupakan salah satu rangkaian agenda Sail Sabang pada 2017 kemarin. Serta, 68 delegasi yang berasal dari 34 provinsi ini mengarungi tiga pulau yang berada di wilayah Pulau Sumatera, yaitu Pulau Batam, Pulau Sabang dan Pulau Belawan.

Hermawan menjelaskan, ada beberapa pengalaman unik yang tidak bisa dilupakan ketika mengarungi lautan bersama KRI Dewaruci yaitu ketika melewati garis khatulistiwa ada ritual atau tradisi yang selalu dilakukan oleh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI-AL) yang sudah dilestarikan selama berpuluh-puluh tahun sebelumnya.

“Jadi ketika awak kapal bersama kami para peserta telah berada tepat di garis khatulistiwa maka kami semua akan melakukan tradisi atau budaya TNI Angkatan Laut yang selama ini dilakukan oleh awak kapal Dewaruci yaitu mandi Khatulistiwa,” jelasnya.

Agenda yang dilaksanakan oleh Hermawan bersama teman-teman dari seluruh Indonesia itu ketika berada di dalam kapal adalah aktivitas yang sudah dijadwalkan oleh pihak Dewaruci sendiri seperti membuat yel-yel untuk ditampilkan dan ada penerimaan materi.

“Setelah naik ke geladak, kami tidak boleh memegang handphone. Jadi di sana disiplin dan ketat, dan juga kami menerima materi pembinaan karakter, membuat yel-yel, bermain. Serta mengikuti Parade Roll, yaitu atraksi yang selalu dilakukan ketika sampai di pelabuhan suatu pulau. Dalam atraksi itu kami semua menaiki tiang kapal, dan saya pernah berada di paling atas tiang kapal. Rasanya itu antara takut mau jatuh dan bangga pernah menjadi bagian dari kapal bersejarah ini,” ungkapnya. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.