Merasakan Suasana Lebaran Mandura di Kelurahan Talise

0
207

Banyak cara dilakukan untuk mempererat tali silaturahmi, apalagi selepas hari raya Idul Fitri seperti ini. Misalnya, dengan berkunjung ke rumah sanak keluarga atau bersilaturahmi secara massal dengan mengadakan kegiatan-kegiatan halal bihalal. Sementara di Kota Palu sendiri juga memiliki tradisi unik seperti yang digelar masyarakat di Kelurahan Talise.

Laporan: TASWIN, Talise

Suasana Lebaran Mandura di Kelurahan Talise yang sudah memasuki tahun kedua. (Foto: Mugni Supardi)

RATUSAN botol pelita menghiasi Jalan Tombolotutu hingga ke Jalan Kamboja, Kelurahan Talise. Pelita yang menghiasi jalan tersebut menjadi, pertanda Lebaran Mandura di Kelurahan Talise. Seluruh warga Kelurahan Talise, berkumpul.

Kegiatan yang masuk tahun kedua digelar di Kelurahan Talise ini, memang bertujuan untuk mempererat tali silahturahmi antar warga di Kelurahan Talise. “Makna dari lebaran mandura orang Talise ini memang untuk mempererat tali silaturahmi kita yang ada di kelurahan ini,” kata Agil selaku Ketua Panitia Lebaran Mandura di Kelurahan Talise.

Sementara kata mandura sendiri, diambil dari nama makanan khas suku kaili yang ada di Kota Palu,   berbahan baku pulut  dibungkus daun pisang dan memiliki berbagai macam warna. Tema piala dunia yang diusung panitia seakan menambah kemeriahan kegiatan Lebaran Mandura. Beberapa bola digantung di sekitar panggung serta ada miniatur lapangan sepak bola dan di atas miniatur itu diisi sebelas makanan khas Kota Palu Lalampa dan Mandura yang disusun layaknya dua keseblasan yang akan bertanding. “Karena ini momennya piala dunia jadi, untuk pahanya (wadah menyimpan makanan) itu disesuaikan dengan yang lagi viral,” lanjutnya ketua panitia ini.

Paha itu sendiri, juga diarak sekitar Jalan Tomblotutu dan diringi alat musik rebana yang dimainkan anak-anak, menambah kemeriahan Lebaran Mandura. Saat mendekati panggung utama lampu pun dimatikan beberapa saat untuk untuk menonjolkan kesan perkampungan yang dulunya hanya menggunakan lampu pelita. Setibanya arak-arakan dipanggung utama lampu pun dinyalakan.

Kelancaran kegiatan ini juga lahir dari partisipasi warga sekitar yang saling bahu-membahu, mulai dari persiapan hingga hari pelaksanaan kegiatan lebaran mandura ini. Toleransi umat beragama pun terlihat dikala persiapan kegiata ini dimana beberapa masyarakat yang bukan beragama muslim ikut berpartisipasi dalam kegiatan lebaran mandura di Kelurahan Talise.

“Syukur Alhamdulillah, kegiatan ini bisa digelar berkat partisipasi masyarakat sekitar yang sangat tinggi, ada juga yang non muslim ikut berpartisipasi di sini mulai dari persiapan hingga sekarang,” ungkap Nirma salah seorang tokoh masyarakat Kelurahan Talise.

Setiap RT di kelurahan Talise ini juga membentuk stand-stand makanan khas Kota Palu dengan  model menyerupaibangunan berupa pondok-pondok seperti yang ada di persawahan. Masyarakat sekitar menyebutnya Tambi, semacam tempat penyimpanan makanan tempo dulu.

“Kalau untuk story-nya itu Tambi, orang dulu biasa menyimpan padi, jagung dan hasil kebun lainya, nah ini merupakan lebaran mandura jadi isinya juga berupa bahan-bahan mandura seperti sayur-sayurnya. Jadi diibaratkan kembali ke jaman dulu dimana listrik belum ada kulkas dan alat-alat elektronik lainya juga belum ada,” beber Nirma lagi.

Banyak harapan yang digantungkan masyarakat setempat saat menggelar kegiatan lebaran mandura ini. Tidak hanya untuk silahturahmi,  Lebaran Mandura juga bertujuan untuk selalu menjaga ketertiban dan miningkatkan toleransi antara umat beragam terutama yang ada di sekitar Kelurahan Talise.

“Saya rasa itu harapan kami semua, saya juga bersyukur masyarakat disni nilai toleransinya cukup tinggi.mudah-mudahan tahun depan kegiatan ini bisa dilaksanakan lagi dan tentunya lebih meriah,” harap Nirma. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.