Untad Berhentikan 1.330 Mahasiswanya

0
1139

PALU – Universitas Tadulako tidak mampu menyelamatkan 1.330 orang mahasiswa angkatan Tahun 2011, yang akhirnya drop out (DO) dari kampus kebanggaan Sulawesi Tengah tersebut. Hal tersebut, disebabkan aturan yang mengharuskan per tanggal 30 Juni, seluruh mahasiswa angkatan 2011 harus menyelasaikan kuliah.

Rektor Universitas Tadulako, Prof Dr Ir Muhammad Basir Ciyo SE MS memindahkan tali toga ke salah seorang wisudawan yang juga adalah putra keduanya, Kamis (5/7) kemarin. (Foto: Mugni Supardi)

Hal itu disampaikan Rektor Universitas Tadulako, Prof Dr Ir Muhammad Basir Ciyo SE MS, saat mempin jalannya Wisuda ke 92 Universitas Tadulako, Kamis (5/7) kemarin. Untuk itu lah, kata Rektor mahasiswa yang berhasil wisuda kemarin, merupakan sosok pilihan yang dirahmati oleh Allah SWT. “Betapa tidak, tidak semua yang terdaftar sebagai mahasiswa Untad diberi jalan menuju hari wisuda sebagaimana kalian jalani hari ini (kemarin),” terang Rektor.

Kampus sendiri, kata Basir, bukan tidak ingin menyelamatkan mereka, terbukti ada sekitar 300an mahasiswa angkatan 2011 yang juga sudah diujung tanduk, namun masih bisa diperjuangkan penyelesaiannya, karena ada kemauan yang kuat untuk menyelesaikan kuliah. “Mereka (yang diselamatkan) ini ada yang masih membutuhkan waktu 2-4 minggu untuk menuntaskan studinya hingga ujian karya ilmiah akhir atau skripsi, untuk jenjang S2 dan S3 angkatan 2013 yang terancam DO juga cukup banyak, di atas angka 30 orang terutama yang melakukan riset berjenjang lebih dari dua tahap, dan kami masih memberi toleransi hingga Oktober 2018, semoga tambahan waktu tersebut dapat dimanfaatkan dengan baik,” ungkapnya.

Wisuda ke 92 kali ini, kata Basir, bukan akhir dalam perjalanan panjang, melainkan sebagai awal melangkah meraih masa depan yang lebih baik. Setiap insan memiliki naluri yang sama, memiliki harapan dan asa terindah dalam mengisi sisa waktu yang ada padanya, berharap harkat, aktualisasi, dan bericita-cita menjadi orang yang sukses menurut ukuran relatif masing-masing.

“Dalam menggapai asa-asa seperti itu dibutuhkan kesungguhan, niat yang baik, tahu berterima kasih, dan pandai bersyukur, kalaupun dalam langkah perjuangan lupa berterima kasih kepada orang-orng yang telah memberi kebajikan, jangan lupa bersyukur kepada Allah, tuhan yang maha pemurah dan penyayang,” tambahnya.

Pada pesan almamater dengan judul arogansi adalah hasrat yang tak terkelola tersebut, terselip harap kepada wisudawan untuk tidak diperbudak dengan hasrat besar yang pindah jadi arogansi dan lupa diri, sehingga harus tetap introspeksi diri sembari merenung secara kalkulatif dengan mengingat kita hadir bukan hadir sendiri tapi kita hadir karena ada kehadiran pihak lain.

“Jangan pernah menganggap kita mampu segalanya dalam perjuangan, sebab sehebat apapun seseorang, kehebatannya sangat mudah ditaklukan oleh keterbatasan yang ada pada dirinya, makanya jangan takabur,” katanya.

Sehingga diharapkan kepada alumni untad setelah terjun di masyarakat, kembangkan semua potensi dan talenta yang dimiliki, karena bangsa membutuhkan generasi muda yang futuristik dan selalu mampu membangun kerjasama dalam kebersamaan. “Kalian adalah permata tadulako, kokoh hatinya, tajam tatapannya, dan brilian gagasannya namun tetap menghargai orangtua yang mendidik dan membesarkannya,” tutupnya.

Gubernur Sulawesi Tengah yang diwakili asisten I bidang administrasi dan pemerintahan Provinsi Sulawesi Tengah, Ir Moh Faisal Mang MM, dalam sambutannya mengatakan, dibalik moment bahagia, ada mahasiswa lain yang tidak sempat ikut bersama teman-teman di ruangan ini, karena dinyatakan DO akibat masa kuliah yang sudah melampaui tenggang waktu akademik. Kiranya hal ini, sebut dia, dapat menjadi perhatian Universitas Tadulako dan menjadi evaluasi, mengapa sampai terjadi tren demikian, bagaimana dan apa saja untuk menanggulangi, dan bagaimana memotifasi dalam menuntut ilmu, sehingga tidak sampai di drop out dari kampus.

“Karena saya melihat kalau ini terus menerus terjadi, pastinya akan berimbas kurang baik terhadap reputasi Untad di mata masyarakat, dan tentu berdampak melambatkan upaya pemerintah dalam membangun sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing,” jelasnya.

Upaya meningkatkan sumber daya manusia di Sulteng, merupakan prioritas pemerintah provinsi sulteng, sebab tersedia human kapital yang berkualitas dan berdaya saing, dipercaya akan turut menunjang dan memudahkan keberhasilan pencapaian di bidang-bidang lainnya.

Oleh sebab itu, lingkungan kampus sebagai pencetak sumber daya manusia, perlu memikirkan terobosan penting guna meningkatkan mutu para lulusan, selepas mereka status mahasiswa, tidak menjadi beban baru di masyarakat maupun bagi daerah masing-masing. Mengapa demikian, karena di setiap momen wisuda otomatis akan terjadi lonjakan statistik para pencari kerja baru, dan pengangguran terdidik, untuk itu, ada tiga modal utama yang mesti diterapkan untad dalam mewarnai pendidikan di Sulteng.

Pertama, institusi ini dapat mewujudkan tata kelola kampus, selalu mengutamakan kerjasama dan budaya pelayanan prima, kedua membangun partisipasi aktif sejenak civitas akademika, sebab kampus adalah institusi yang berdiri diatas panggilan peradapan pengabdian dan kemanusiaan.

Ketiga memperkuat integritas dan karakter kampus, serta jangan sampai mengkomersialisasi kampus yang pada gilirannya justru melahirkan lulusan yang terbiasa ada dalam zona nyaman dan enggan mencoba tantangan baru dalam kehidupannya nanti. Tidak hanya dihadiri para undangan dan wisudawan, dalam wisuda ini juga dihadiri Dewan Pengawas BLU Untad, H Kamil Badrun AR SE MSi yang juga Pemimpin Umum Radar Group, serta sejumlah pejabat unsur Forkompida Sulteng. (ika)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.