Perda Ternak Hingga Sanksi Adat Tidak Buat Jera

0
143

PALU – Tidak hanya peraturan daerah (Perda) terkait ternak saja yang diberikan pada para pemilik ternak yang membiarkan hewan peliharannya berkeliaran, namun juga ada sanksi adat yang diterapkan, seperti diberlakukan di Kelurahan Silae. Meski begitu, para pemilik seolah tidak ada kapoknya melepas hewan ternak bebas berkeliaran.

Pemandangan sapi menggunakan jalan raya bukan hal yang baru ditemukan di Kota Palu. Seperti yang terlihat di sekitar Kelurahan Silae, Jumat (13/7). (Foto: Taswin)

Seperti terlihat Jumat (13/7), tepatnya di sekitar Kelurahan Silae, Kecamatan Ulujadi. Beberapa ekor ternak sapi lalu lalang dengan bebasnya di tengah jalan tanpa diawasi pemiliknya.

Salah seorang warga sekitar, Alam, mengatakan ternak tersebut sering terlihat ketika memasuki siang hari. Dirinya juga mengaku di kawasan tersebut pernah terjadi kecelakan akibat ternak yang menyeberang jalan.

“Di sini kan jalan akses keluar masuk Kota Palu, jadi pengendara laju-laju semua, kalau tiba-tiba menyeberang ini sapi mana sempat mengerem, makanya terjadi kecelakaan,” ungkapnya, Jumat (13/7).

Menurutnya pemerintah setempat dan seluruh steakholder yang terkait belum tegas untuk melaksanakan Perda yang telah ada. Pasalnya dari amatanya, ternak sering terlihat di waktu-waktu tertentu. Meskipun begitu dirinya selaku warga setempat juga kadang kala merasa terganggu adanya ternak yang berada di jalan raya tanpa diawasi oleh pemiliknya.

“Saya sebagai orang awam, juga tidak terlalu paham sekali masalah hukum, tapi setahu saya itu kan sudah ada aturannya, jadi sisa bagaimana penegakan apalagi landasannya jelas. Memang betul Perdanya ada tapi kalau pelaksanaanya tidak ada untuk apa juga?,” tegas Alam.

Dikonfirmasi terpisah, Lurah Silae, Moh Syafaat, menepis hal tersebut. Pasalnya kata dia, dirinya selaku Lurah dan seluruh steakholder yang terkait dalam hal ini telah melakukan berbagai macam upaya untuk menertibkan ternak tersebut, hanya saja belum adanya kesadaran dari para pemilik ternak untuk mengandangkan ternaknya.

“Semua upaya sudah kami lakukan, mulai dari imbauan ke rumah-rumah ibadah, pendataan dari dinas peternakan hingga mengamanakan ternak yang berkeliaran, tapi kita belum ada kandang senidiri untuk menampung itu jadi sementara kami usulkan ke Pemerintah Kota,” kata Syafaat.

Upaya lainpun telah dilakukan seperti, adanya denda adat yang dikenakan bagi para pemilik ternak. Namun dua aturan tersebut belum diindahkan para oknum pemilik ternak dikawasan Kelurahan Silae. Syafaat juga mengatakan, bahwa tidak hanya ternak milik warganya yang berkeliaran, beberapa kali juga pemilik ternak dari kelurahan lain sering terlihat lalu lalang di Kelurahan Silae.

“Biasanya itu, ada juga sapi dari Kelurahan sebelah. Ini denda adat sudah juga kita kenakan, tapi masih ada juga yang berkeliaran.kedepanya kami akan koordinasi kembali dan tegas sudah dalam hal ini, karena banyak yang dirugikan akibat ini,” tandasnya. (win)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.