TAJUK | Masyarakat yang Saling Mengenal dan Menjaga

0
116

SATU demi satu misteri tentang peristiwa penyekapan seorang gadis di Desa Bajugan Kabupaten Tolitoli mulai terungkap. Pemeriksaan korban, pelaku, dan saksi-saksi diharapkan akan membuka fakta terkait kasus yang menarik perhatian media asing ini.

Dengan mendalami fakta dan motif peristiwa ini, proses hukum diharapkan berjalan seadil-adilnya. Tidak saja menghukum pelaku. Proses hukum yang berjalan diharapkan terintegrasi dengan upaya-upaya merehabilitasi dan memberi perlindungan bagi korban.

Terlepas dari proses hukum yang sedang dan akan berjalan, peristiwa penyekapan yang berlangsung lebih kurang 15 tahun, penting sebagai pelajaran bagi semua. Bahwa ada sesuatu yang hilang dalam masyarakat. Kita kehilangan perasaan untuk saling mengenal dan kebutuhan untuk saling menjaga.

Apa yang menimpa korban Hasni (28), merupakan sebuah peristiwa langka. Peristiwa ini tidak terjadi di kota besar yang masyarakatnya heterogen. Yang masyarakatnya mungkin tidak mengenal satu sama lain. Peristiwa ini terjadi di sebuah desa. Yang masyarakatnya karib dengan yang lain.

Toh, peristiwa ini nyata terjadi. Selama 15 tahun ada seorang anak gadis yang hilang. Pasti ada upaya untuk melakukan pencarian dari keluarga dan mungkin masyarakat setempat. Disayangkan karena upaya pencarian itu kelihatannya tidak menjadi interes bersama yang dilakukan terus-menerus.

Tiba-tiba masyarakat di luar Tolitoli dikejutkan dengan ditemukannya korban. Semua tersentak. Penemuannya berlangsung sangat dramatisir. Di dalam sebuah gua atau lubang batu. Hilang selama 15 tahun. Menjadi budak seks selama dalam penyekapan. Oleh  seorang kakek 83 tahun yang dikenal di desanya sebagai dukun.

Bagaimana resahnya sebuah keluarga yang kehilangan anggotanya selama tiga kali masa Pemilu? Tapi sepertinya keresahan keluarga tidak menjadi keresahan bersama seluruh masyarakat di desanya maupun di desa sekitarnya. Peristiwa kehilangannya tidak pernah menyebar 15 tahun lalu sebagaimana berita tentang penemuannya yang langsung vilar seperti sekarang.

Mungkin karena saat itu, media sosial belum berkembang sepesat sekarang. Tapi minimal ada perhatian dari berbagai pihak. Pemerintah desa, kepolisian, dan pemerintah daerah. Atau setidaknya ada calon kepala daerah, calon kepala desa, maupun calon legislatif dari wilayah itu yang konsen pada hilangnya seorang warga.

Sebab hilangnya seorang anak manusia bukan sekadar persoalan privat dan individual. Ini adalah persoalan publik dan sosial. Maka sepatutnya lembaga-lembaga publik dan sosial merasa turut bertanggung jawab. Bila ada pergantian Kapolsek atau Kapolres di wilayah itu, misalnya, maka dalam serah terima jabatan, mesti ada penyerahan tugas yang belum selesai.

Sampaikan kepada pejabat baru bahwa masih ada tugas yang belum tuntas. Di desa ini, ada anak yang hilang dan belum ditemukan sehingga upaya pencariannya perlu dilanjutkan. Begitu pula pada setiap hajatan politik seperti pemilihan kepala daerah, kepala desa, dan anggota legislatif, titip masalah ini sebagai pekerjaan rumah bersama.

Perasaan dan tanggung jawab seperti ini yang hilang di masyarakat. Padahal setiap tahun kita memperingati hari bulan bhakti gotong royong. Tapi ternyata kita masih bisa tidur nyenyak, ketika di rumah sebelah ada tetangga yang kehilangan anak. Kepala desa masih konsentrasi dalam proyek-proyek desa padahal masih ada satu warganya yang tidak jelas nasib dan keberadaannya.(**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.