TAJUK | Bijak dan Kritis Menyebar dan Menerima Informasi

0
113

INFORMASI kini beredar bebas dan cepat. Siapa saja dapat menjadi produsen informasi. Perkembangan teknologi yang diikuti dengan penggunaan media sosial secara massif memberi ruang bagi siapa saja untuk memproduksi dan menyebarkan informasi. Ada sisi positif dari situasi ini. Informasi yang diperoleh dan dikonsumsi publik menjadi lebih beragam. Masyarakat tercerahkan dan menikmati asupan informasi yang diperlukan bagi pengembangan diri dan lingkungan sosialnya.

Ada pula sisi negatifnya. Sebab informasi yang beredar begitu bebas kerap tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Informasi di media sosial tidak melalui proses yang ketat dan selektif sebagaimana berita yang dihasilkan wartawan dan disebarluaskan oleh medianya. Tidak ada verifikasi dan konfirmasi. Tidak penting untuk memastikan dampak yang dihasilkan oleh beredarnya suatu informasi. Baik dampak terhadap individu, masyarakat, maupun moral publik.

Padahal verifikasi, konfirmasi, tanggung jawab, dan manfaat merupakan hal yang sangat esensial dalam jurnalistik. Bagi media sosial, semua ini kadang dianggap tidak penting. Kasus pelemparan warung sate oleh massa di Jalan Trans Sulawesi Kelurahan Panau Kecamatan Tawaeli, adalah contoh betapa informasi yang beredar di media sosial, begitu cepat memancing reaksi. Beredarnya informasi lewat media sosial yang menengarai pemilik warung mengoplos dagangannya dengan daging biawak, membuat masyarakat marah.

Di sinilah pentingnya sensivitas. Bijak berbagi informasi yang sifatnya sangat sensitif. Sebaliknya, masyarakat yang menerima suatu informasi hendaknya tidak menelan mentah-mentah. Perlu dipastikan kebenarannya. Kalau pun harus bereaksi, sebaiknya diserahkan dan dipercayakan kepada aparat. Tidak harus main hakim sendiri. Apalagi informasi yang beredar belum pasti benar. Sementara amarah massa pasti memicu kerusakan. Menimbulkan kerugian materil dan psikologis terhadap pihak yang tertuduh tanpa kesempatan untuk membela diri dan memberi penjelasan.

Dengan peristiwa ini, aparat kepolisian tidak lagi menghadapi kasus yang tunggal. Selain harus menyelidiki kebenaran informasi tentang penggunaan daging biawak dalam sate yang diperjualbelikan, polisi juga harus mengusut penyebar informasi dan pihak-pihak yang melakukan aksi main hakim sendiri. Sekiranya benar ada tindakan curang dari pedagang, maka hukuman yang setimpal harus dijatuhkan. Sebab perbuatan itu sangat merugikan masyarakat, khususnya konsumen. Praktik demikian ini harus dihentikan. Sebab bertentangan dengan hukum dan kepatutan.

Peristiwa ini penting menjadi pelajaran buat semua. Agar pedagang berlaku jujur terhadap pembeli. Agar pengguna media sosial lebih selektif dan bijak dalam berbagi informasi. Pertimbangkan dampak-dampak yang mungkin timbul. Agar masyarakat yang menerima informasi juga kritis dan tidak bertindak sendiri. Di atas semuanya, peran Satgas K5 di setiap kelurahan dibutuhkan untuk mengelola situasi agar lebih kondusif. Informasinya dipastikan kebenarannya sambil mencegah agar tidak ada pihak yang main hakim sendiri. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.