Menelusuri Jejak Sejarah Sumur Tua di Kelurahan Talise

0
674

Jejak-jejak sejarah di Kota Palu, ternyata tidak hanya banyak ditemukan di wilayah Kota Palu bagian barat. Di wilayah Kelurahan Talise, Kecamatan Mantikulore, juga ada salah satu situs sejarah, yakni sebuah sumur tua, yang konon digunakan para pasukan kerajaan untuk mandi sebelum berangkat berperang.

KARTIKA KUMALA SARI, Talise

Kondisi sumur tua yang menjadi situs sejarah yang telah ada sekitar 1700 di Kelurahan Talise. (Foto: Mugni Supardi)

UNTUK mendapati lokasi situs ini, tidak perlu memakan waktu yang lama. Lokasinya hanya berjarak kurang lebih 100 meter dari tepi Jalan Yos Sudarso, tepatnya di belakang jejeran Rumah Toko (Ruko), tidak jauh dari SPBU Yos Sudarso. Orang tidak akan menyangka jika sumur tersebut merupakan situs bersejarah, karena jalan masuk ke lokasi ini pun sempit dan dikelilingi rumput liar.

Padahal, dari informasi sumur ini sudah ada sejak tahun 1.700an. Sumur yang oleh masyarakat asli Talise, dikenal dengan nama Buvu Rasede itu, merupakan peninggalan Magau atau Raja yang dikenal dengan nama Pue Nggari.

Kisah sumur ini, pun didapat dari hasil tutura atau bertutur orang tua terdahulu. Buvu Rasede, memang sengaja dibuat oleh Pue Nggari untuk menghasilkan sumber mata air, namun diciptakan hanya dengan menancapkan tombak atau disebut pula ni tambuli.

Sumur yang dulunya diketahui berukuran besar, dengan kedalaman kurang lebih 3 meter tersebut, konon digunakan untuk mandi oleh para pejuang sebelum berangkat perang, hal itu diyakini menjadi sumber kekuatan atau kekebalan tubuh para pejuang selama berperang.

Keberadaan situs ini kemudian diketahui banyak orang, setelah salah seorang asli dari Besusu, bernama Pue Konto kemudian memperbaiki situs tersebut sekitar 1800an atau 1900an, yang merupakan salah satu Tadulako perang di zamannya.

Namun sebelumnya sumur tersebut pernah ditimbun, sehingga dilakukan penggalian kembali tepat di antara dua pohon yang disebut guma gaya, sejenis beringin yang juga dianggap sakral, dan kini dibentuk sumur dengan ukuran kecil dan tidak begitu dalam. Ketua Komunitas Sejarah dan Budaya Sulteng, Hendra, ditemui di sekretariat komunitas tersebut, membenarkan, jika sumur tua di Jalan Yos Sudarso itu, merupakan situs bersejarah. “Air dari sumur itu, dipakai mandi para pejuang dulu, katanya untuk kekebalan tubuh sebelum mau perang, dan itu di keramatkan orang,” ungkapnya, Rabu (15/8).

Meskipun sekarang terlihat sedikit dipenuhi lumut hijau, namun sebelumnya pernah dibersihkan, dan kemudian terisi kembali oleh mata air yang muncul dari kedua pohon. Airn tawar yang dikeluarkan pun dipercaya merupakan air yang sangat jernih, meskipun sedikit berdekatan dengan air laut. Tidak berkapur, sehingga dapat di konsumsi.

“Saya pernah bawa ke laboratorium kesehatan, rupanya airnya sangat bersih dan tidak ada kapur, jadi dia netral, kalau saya liat airnya itu bisa dikonsumsi, kalau kita melihat air nomor satu, kalau di jawa ada air awet muda, mungkin hampir sama, karena melihat dari struktur itu, dia punya air itu murni,” ungkap Hendra yang juga Pegawai di Dinas Kesehatan tersebut.

Situs ini kemudian oleh para pegiat sejarah yaitu Komunitas Sejarah dan Budaya, dirawat dengan melakukan pengecoran lantai dan bentuk sumur berukuran kecil, demi untuk menjaga kelestarian situs sejarah di Kota Palu. “Oleh teman teman komunitas sejarah budaya, itu dikasih bagus, karena seperti sudah hilang kesan sejarahnya, jadi diperbaiki untuk kemudian kita usahakan jadi situs sejarah, karena itu memang ada, dan kita juga tidak bisa lupakan bagian dari sejarah berdirinya Kota Palu dan berdirinya semua kerajaan-kerajaan di Kota Palu ini, adanya Buvu Rasede, buvu artinya sumur, dan rasede adalah nama seseorang yang digelarkan pada sumur tersebut, “ jelasnya.

Tidak hanya sendiri, pegiat sejarah dan budaya tersebut juga membangun sinergitas bersama pemerintah daerah setempat yaitu Lurah Talise, untuk bagaimana bersama-sama menjaga dan melestarikan sejarah dan budaya peninggalan zaman terdahulu. “Kami pun bersinergi dengan pemerintah pada waktu itu kami minta ijin dengan kelurahan talise, untuk memperbaikinya, situs cakar budaya dan ikon kelurahan talise, yang sebenarnya masih banyak jika kita mau bekerja sama mencari tahu,” jelasnya. Sehingga kedepan, situs cagar budaya tersebut dapat menjadi kekayaan daerah dalam bentuk sejarah, dapat menjaga dan memelihara peninggalan-peninggalan sejarah Kota Palu.

Meski begitu, tidak semua warga yang tinggal dekat sumur tersebut mengetahui, jika sumur tersebut adalah situs sejarah. Contohnya Muhammad Hidayat. Warga yang mengaku sudah tinggal selama tiga tahun di dekat sumur itu, baru mengetahui jika sumur itu adalah peninggalan leluhur yang ada di daerah ini. “Saya sudah tinggal tiga tahun disini, tahu ada sumur, tapi tidak tahu kalau itu bersejarah, tidak pernah juga cari tahu, orang sini juga tahu, tapi tahunya hanya sumur biasa, tidak tahu juga ada airnya atau tidak, saya hanya lewat saja, lalu lalang, dan sekitar tiga bulan yang lalu itu direnovasi,” ungkap Hidayat ditemui di rumahnya, Rabu (15/8).

Hal yang sama juga diungkapkan Irma, pemilik warung Soto Lamongan yang sejak empat tahun silam, berada di pinggir jalan sebelum memasuki kawasan situs tersebut, mengaku banyak warga yang juga berdatangan menanyakan keberadaan sumur sambil membawa sebuah botol di tangannya.

Namun Irma mengaku, tidak mengetahui apa yang membuat sumur tersebut dicari banyak orang. “Banyak yang tanya, mbak ada sumur di situ? Saya bilang iya ada sumur, cuma saya tidak tau bersejarah itu sumur, karena setahu saya dulu ada rumah persis di dekat itu sumur, jadi kiranya itu sumur milik yang punya rumah, banyak sekali orang yang datang tanya, waktu kapan itu sambil bawa botol, tidak tahu untuk apa,” tandas Irma. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.