NENDRA PRASETYA
MENYISAHKAN MASALAH : Salah satu pementasan seni di Festival Bunyi Bungi (FBB), baru-baru ini. Panitia FBB didenda adat karena tidak tepat waktu memulai kegiatan di Toro, Kulawi.

                                                                                                                                      SIGI-Ini pelajaran berharga bagi kepanitiaan festival seni budaya. Disiplin waktu dan ketepatan acara tidak boleh dianggap remeh. Apalagi jika melibatkan masyarakat adat. Molornya waktu kegiatan bukan hanya terkesan tidak menghormati, tapi juga menyebabkan kerugian.

Inilah yang terjadi pada panitia penyelengara Festival Bunyi Bungi (FBB), yang didukung oleh platform kebudayaan Indonesiana, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI), dikenakan sanksi adat oleh masyarakat Desa Ngata Toro.

Sanksi adat atau denda, atau givu dalam bahasa adat Kulawi dan sekitarnya, diberikan atas musyawarah bersama masyarakat adat Ngata Toro di rumah adat Lobo, Desa Toro, Kecamatan Kulawi. Hal tersebut, disampaikan langsung oleh tokoh adat Ngata Toro, Andreas Lagimpu.

Andreas Lagimpu menyampaikan bahwa adanya kelalaian penyelenggara terkait waktu yang ditentukan, kepanitiaan menyebut akan tiba Tim Jelajah Budaya Festival Bunyi Bungi di Desa Toro pada Sabtu (1/9) sekitar pukul 11.00 wita, namun hingga pukul 15.00 wita tak seorangpun pihak kepanitiaan berkoordinasi dengan masyarakat adat terkait adanya keterlambatan.

“Pelanggarannya adalah Nepaleva atau tidak tepat waktu. Masyarakat adat sudah menyiapkan makanan begitu banyak, dan masyarakat lainnya meninggalkan pekerjaannya hanya untuk menyambut kedatangan tamu rombongan Tim Jelajah Budaya FBB. Namun, karena sudah terlalu lama menunggu serta tidak adanya koordinasi kedatangan rombongan dari pihak penyelenggara, masyarakat adat Ngata Toro melakukan musyawarah dan memutuskan untuk mendenda atau givu penyelenggara,” terangnya.

Menurutnya, bahwa denda atau sanksi adat yang ditujukan ke penyelenggara FBB, harus menyediakan satu ekor kerbau, 10 buah dulang, dan satu buah Ndesa atau kain sarung.

“Sanksi adat tersebut, sesuai dengan kesalahan yang dilakukan oleh penyelenggara kepada masyarakat adat Ngata Toro, yang mana hal tersebut sudah menjadi ketentuan di Desa Toro,” kata Andreas.

Kegiatan FBB memilih lokasi penutupan di Kampung Adat Toro, Kecamatan Kulawi karena bentuk penghargaan terhadap masyarakat adat di Kabupaten Sigi sekaligus edukasi bagi warga Sigi untuk mengenali kembali kampung adat.

FBB digelar di tiga titik, yaitu Desa Kabobona, Kawasan Wisata Lumpung Batu, dan Desa Toro Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi.(ndr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.