FOTO: AHMAD HAMDANI UNTUK RADAR SULTENG
DIKONFRONTIR: Sa-napi narkoba diperiksa petugas Lapas. Ia mengaku tidak pernah minta ke orangtua dengan alasan sakit dan untuk biaya PB.

TOLITOLI— Gaya penipuan dengan modus kecelakaan, meminta uang, papa minta pulsa dll, umumnya sering dialami pelanggan operator seluler di tanah air. Tapi, di balik jeruji Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II Tolitoli, berbeda.

“Halo, malassa ka…nakena jambang talua (muntaber), butuh uang enam ratus ribu. Saya sudah dapat izin lapas dan bisa dijemput berobat, karena ada juga untuk biaya urus jaminan bebasnya”

Demikian cuplikan by phone percakapan seseorang yang diduga berasal dari dalam Lapas Tolitoli kepada keluarga salah seorang napi berinisial Sa yang berada di Desa Ogoamas, Kabupaten Donggala.

Mendapat kabar bahwa anaknya sakit, At-orangtua Sa sontak kaget, panik dan kemudian mencari pinjaman untuk segera dikirimkan kepada anaknya warga binaan Lapas Tolitoli yang tersandung kasus narkoba, Selasa (4/9) malam.

“Mama saya panik, makanya langsung malam itu cari uang enam ratus ribu untuk bakirim ke Sa. Ada nomor rekening yang dikasi. Ditransfer lah uangnya, lalu pagi hari ini (kemarin, Red) saya disuruh bajemput Sa,” ungkap Ra-keluarga Sa yang berdomisili di Tolitoli.

Disebutkan, rekening tujuan dimaksud yakni Bank BRI no 506201007390534 an Andi Nurbaya. Di nomor inilah, orangtua Sa mengirimkan uang enam ratus ribu.

Lanjut Ra, paginya rencana menjemput urung dilakukan. Sebab, ketika ia menanyakan informasinya ke Sa dan rekannya sesama warga binaan, ternyata Sa sehat-sehat saja, dan tidak pernah meminta uang apalagi minta dijemput pulang.

“Sa mengaku pernah minta uang, tetapi itu sebelum bulan Ramadan, dan kondisinya saat ini sehat wal afiat, makanya tidak jadi ke lapas. Sudah pasti ini penipuan. Entah itu dilakukan petugas lapas atau warga binaan, kami tidak pasti,” tuturnya lagi.

Lanjut Ra, suara oknum dari balik telepon tersebut diduga berada di dalam lapas. Sebab, tidak mungkin orang di luar lapas mengetahui jika Sa telah menandatangani berkas Pembebasan Bersyarat (PB) dan akan bebas dalam waktu dekat. Ia menduga, hanyalah sesama warga binaan atau oknum petugas dalam Lapas yang lebih mengetahui hal itu.

Sementara itu, Ma (50)-warga Desa Galumpang, Kecamatan Dakopamean mengaku mengalami hal yang sama. Akunya, ia mendapat kabar bahwa anaknya berinisial Yu diharuskan membayar uang untuk memuluskan pengurusan jaminan bebas sebesar Rp 500.000. “JIka tidak saya bayar, hukumannya akan bertambah,” kata Ma kepada Radar Sulteng kemarin (5/9).

Dikonfirmasi perihal dugaan penipuan, Kepala Lapas Kelas IIB Tolitoli Abdul Wahid SH MH memastikan bahwa perbuatan ini tidaklah dilakukan oleh pegawai Lapas Tolitoli. Tapi, jika memang ada data, atau ada bukti pegawai lapas bermain, maka ia meminta korban atau yang terkait melaporkannya. “Sehingga kami akan tindak tegas, sesuai aturan yang ada. Tapi, saya tegaskan, bahwa anggota saya tidak akan berani melakukan itu,” jawab Abdul Wahid yang menambahkan, dugaan penipuan tersebut bisa saja dilakukan oleh oknum penghuni lapas.

Timpal Wahid, pihaknya masih superketat mengawasi masuknya barang-barang pengunjung, baik tas, tempat makanan, bahkan no handphone bisa masuk.

“Tapi begitu, masih ada saja hp yang lolos masuk ke dalam. Karena itu, kami rutin melakukan penertiban atau razia di dalam, untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi di Lapas,” serunya.

Terpisah, Kasi Bimbingan Napi Irwanto menambahkan, untuk mengurus berkas Pembebasan Bersyarat (PB), syarat yang ditentukan di antaranya keterangan pejabat daerah setempat seperti kepala desa, lurah, atau camat, ditandatangani oleh napi yang bersangkutan, kemudian diberikan kepada napi dan nantinya diserahkan kepada keluarga napi. Lapas tidak memberikan langsung, untuk menghindari potensi pungli atau bentuk dugaan lain.

“Jadi, tidak ada itu bebas bersyarat ada jaminan uang, tidak ada biaya ini dan itu, asal sesuai syarat dan ketentuan, napi berhak mendapat PB. Tapi, kami akan terlusuri kasus ini, agar kejadian tidakterulang kami akan ambil langkah tegas dan cepat penanganannya,” janjinya.

Lanjut Irwanto, pihaknya rutin melakukan razia atau penertiban, apalagi dengan adanya kasuistis seperti ini, pihaknya akan maksimal melakukan penertiban di semua lini.

Disinggung soal uang jaminan, jika tidak dibayar hukuman bertambah, Irwanto menegaskan, dalam aturannya setiap narapidana menjalani hukuman sesuai hasil putusan hukum berkekuatan tetap. Hukuman tersebut dijalani sesuai waktunya dan tidak bisa bertambah. Yang ada, justru masa hukuman berkurang, karena warga binaan punya hak mendapatkan remisi, seperti remisi 17 Agustus, Lebaran maupun Natal.

“Intinya kami akan telusuri laporan ini, siapa biang keroknya akan kami usut. Sebab, ini bisa berdampak pada nama baik Lembaga. Dan kami tegaskan, tidak ada pegawai kami berani berbuat seperti itu,” lengkapnya. (dni)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.