Dua Kali Gempa, Ini yang Terjadi di RS Anutapura

0
222

FOTO:MUGNI SUPARDI/RADAR SULTENG
SELAMATKAN DIRI: Pasien di RSU Anutapura menenangkan diri dibangku lorong rumah sakit setelah gempa tadi malam. BMKG mencatat dua gempa ini diakibatkan oleh sesar Palu Koro.
PALU – Diguncang gempa bumi beruntun, Sabtu (22/9), sebanyak dua kali dalam sehari berkekuatan lemah sampai sedang, masyarakat Kota Palu panik berlarian keluar rumah, tak terkecuali pasien di Rumah Sakit.
Hasil analisis BMKG Stasiun Geofisika, gempa pertama pukul 07.20 wita berkekuatan 5,1 Skala Ricther (SR) dengan titik lokasi di Teluk Palu atau 9 km arah barat laut Palu pada koordinat 0.83 LS – 119.83 BT kedalaman 10 km. Tingkat guncangan dirasakan lemah – sedang atau setara III sampai IV MMI atau II SIG BMKG di Palu dan Poso.
Gempa kedua, terjadi pukul 20.08 wita berkekuatan 4,8 SR di darat atau 4 km arah barat daya Palu pada koordinat 0.92 LS -119.84 BT kedalaman 10 km. Tingkat guncangan gempa dirasakan setara IV MMI di Palu, Sigi, Parigi, dan Donggala. Letak gempa ini bergeser sekitar 10 km dari gempa sebelumnya mengarah ke daratan.
“Kedua gempa ini disebabkan akibat aktivitas dari sesar Palu Koro,” kata Pengamat Meteorologi Geofisika (PMG) BMKG Stasiun Geofisika Palu, Hendrik Leopatty kepada Radar Sulteng, tadi malam.
Gempa pertama kata Hendrik, dipicu oleh segmen Palu Koro yang berada di selat Makassar, sedangkan gempa kedua dipengaruhi segmen Palu Koro yang lebih cenderung berada di Kota Palu. Meskipun dipicu oleh satu sesar, tetapi kekuatannya lebih keras dirasakan saat gempa kedua. Karena menurutnya, pusatnya berada di perkotaan, sedangkan yang pertama jauh dari wilayah perkotaan. Sesar Palu Koro sendiri bisa menghasilkan gempa-gempa kecil dua sampai tiga kali dalam sehari.
“Kalau gempa pertama intensitasnya III sampai IV MMI di Palu, kalau gempa kedua IV MMI. Jadi gempa kedua terasa keras di wilayah perkotaan,” jelasnya.
Dua gempa ini menghasilkan gempa susulan yang tidak dirasakan atau dalam skala kecil, hanya dapat direkam oleh alat milik BMKG. Diakui Hendrik, sesudah gempa malam hari terjadi lima sampai enam kali gempa susulan di bawah 2 SR. Kondisi ini sebut Hendrik normal bagi mereka, karena merupakan susulan dari gempa utama.
“Kalau dari sisi teori tidak mungkin gempa susulan lebih besar dari gempa utama, ini dari sisi teoritas yah,” terangnya.
Dia berharap pada seluruh masyarakat di Kota Palu untuk tetap tenang dan jangan panik. BMKG mengimbau agar kiranya masyarakat tidak mempercayai isu-isu yang bisa saja disebar di tengah-tengah masyarakat oleh orang-orang tidak bertanggung jawab. Karena secara psikologi masyarakat sudah dikagetkan dua kali.
“Jangan percaya isu-isu hoax, boleh menghubungi BMKG karena kita stay 24 jam,” ungkapnya.
Gempa lemah sampai sedang ini digambarkan getaran dirasakan oleh banyak orang tetapi tidak menimbulkan kerusakan, benda-benda ringan yang digantung bergoyang, dan jendela kaca bergetar.
Sementara itu, pantaun Radar Sulteng pasien di RSU Anutapura memilih untuk keluar dari kamarnya. Beberapa pasien lengkap masih terpasang inpus, dan sudah lanjut usia terlihat ditemani keluarganya duduk di lorong-lorong rumah sakit. Apalagi pasien yang sedang dirawat di lantai II rumah sakit yang berada di wilayah Palu Barat ini.
“Kami masih takut, yang pagi bikin panik, ditambah malam lagi, lebih baik duduk-duduk di luar saja, untung ada keluarga yang bantu, tadi ada pasien yang teriak-teriak panggil keluarganya,” cerita salah seorang pasien, Badrun, yang mengaku dari Kabupaten Parigi Moutong.
Lain halnya dengan Adinda, pasien dari Labuan Toposo ini mengaku masih berjaga-jaga di malam hari, dirinya takut kalau gempa datang diwaktu dirinya beristirahat.
“Lebih baik jangan tidur lah,” singkatnya. (acm)

FOTO: MUGNI SUPARDI/RADAR SULTENG
PUSAT GEMPA: Petugas BMKG menunjukkan lokasi pusat gempa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.