Festival Budaya Perdamaian Tidak “Sedamai” yang Dilihat

Menuai Banyak Kekecewaan dari Sejumlah Pihak

0
423
FOTO: NENDRA/RADAR SULTENG
PENYAMBUTAN : Rombongan Kementerian PDTT, DPR RI, Pemprov Sulteng dan Pemkab Sigi disambut secara adat oleh masyarakat Kulawi, salah satunya dengan penampilan Tari Rego. Dimana tari ini digunakan sejak dahulu hingga sampai saat ini oleh masyarakat Kecamatan Kulawi, khususnya dalam menyambut tamu terhormat.

SIGI – Penyelenggaraan Festival Budaya untuk Perdamaian yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sigi melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Sigi yang dipusatkan di Desa Bolapapu Kecamatan Kulawi Kamis (20/9), ternyata menuai banyak kekecewaan terutama bagi sejumlah pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan tersebut.

Dari data yang diperoleh Radar Sulteng di lapangan, kegiatan yang bekerjasama dengan Kementerian PDTT itu menggelontorkan dana kurang lebih sebesar Rp 170 juta lebih dimana dipergunakan untuk penyewaan tenda, sound sistem dan perlengkapan lainnya untuk menunjang berjalannya kegiatan itu.

Namun pada kenyataannya hampir seluruh perlengkapan kegiatan yang dipergunakan merupakan perlengkapan milik Pemkab Sigi yakni dari bagian Perlengkapan Umum (Perlum). Hal ini diungkapkan oleh pihak Pemkab Sigi yang namanya tidak ingin dikorankan.

Ia mengatakan, selama membantu berjalannya kegiatan itu pihaknya sama sekali tidak diperhatikan. Parahnya lagi sampai tidak diberi makan, sehingga ia harus mencari makan sendiri. “Semua perlengkapamn tenda hingga kursi bahkan satu sound sistem itu milik Pemkab Sigi, bukan disewa oleh pihak ke tiga atau IO yang mengurus segala perlengkapan kegiatan itu,” jelas narasumber tersebut.

Sementara dikonfirmasi pihak IO mengaku bahwa keseluruhan perlengkapan dalam kegiatan itu disewa, dengan menggunakan seluruh anggaran yang ada yakni Rp 170 juta. Ia mengaku memang ada sebagian tenda yang dipinjam dari bagian Perlum, seperti tenda kerucut yang dipergunakan untuk stand pameran.

Bahkan Wayan selaku pihak IO mengaku anggaran yang dipergunakan masih kurang, sehingga pihaknya masih berhutang dalam menyewa perlengkapan itu. “Rp 170 juta itu kami gunakan untuk menyewa seluruh perlengkapan, bahkan untuk sound sistem itu kami sewa Rp 6 juta selama tiga hari kegiatan,” terangnya.

Sejumlah anggaran pun Kata Wayan, masih dimintai oleh pihak Dinas Pariwisata Kabupaten Sigi untuk keperluan yang tidak diketahui apa peruntukannya. “Kami juga agak kekurangan dalam membayar perlengkapan ini, karena Kadis Pariwisata diakhir kegiatan meminta uang sebesar Rp 17 juta kepada kami. Namun saya tidak mengetahui dipergunakan untuk apa,” tuturnya.

Semua ini kemudian menjadi keganjalan dalam pelaksanaan kegiatan Festival Budaya untuk Perdamaian tersebut. Sehingga sejumlah pihak pun bertanya-tanya dan menganggap bahwa kegiatan ini seakan dipaksakan untuk dilaksanakan. (ndr)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.