Poso Endemik Kasus Rabies

118 Orang Positif Rabies Akibat Gigitan Anjing

0
509
    FOTO: Ilustrasi/http://dogsaholic.com

POSO – Kasus penyakit rabies di Kabupaten Poso sekarang cukup tinggi. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat, tahun 2018 ini setidaknya sudah terjadi 380 kasus gigitan anjing dengan 118 diantaranya positif rabies. Terkait hal itu, Kepala Dinas Pertanian (Distan) Poso Heningsih Tampai MSi mengakui soal besarnya potensi kasus penyakit rabies di daerahnya. Dengan jumlah populasi anjing yang mencapai 17 ribu lebih bahkan telah memastikan Poso sebagai daerah endemik rabies di Sulteng. Besarnya jumlah populasi anjing disebabkan oleh budaya masyarakat yang gemar memelihara anjing.
“Dari 19 kecamatan yang ada di Poso, hanya Poso Kota yang tidak memelihara anjing. Dengan 18 kecamatan warganya suka memelihara anjing, maka wajar kalau populasi anjing di Poso sangat besar dan menjadikannya sebagai daerah endemik rabies,” ungkap Heningsih.
Soal data adanya 317 kasus gigitan anjing positif rabies sebagaimana diungkap Dinkes, Heningsih meragukannya. Ia justru menanyakan apakah data Dinkes itu sudah melalui uji laboratorium? “Kalau hanya bicara soal kasus gigitan anjing, saya percaya kalau jumlah kasusnya mencapai 380 kasus. Bahkan dengan populasi anjing hampir 18 ribu ekor, malah jumlah kasus gigitan itu menurut saya masih sedikit, karena sangat bisa lebih banyak dari itu (380),” ujar mantan Sekwan Poso ini.
“Tapi kalau bicara gigitan anjing itu positif rabies, maka kita harus lajukan uji laboratorium untuk memastikannya. Karena tidak semua anjing ganas yang menggigit itu rabies. Bisa menggingit karena dia habis melahirkan, dan bisa juga karena merasa terganggu dengan keberadaan kita (manusia),” tambahnya.
Lalu berapa data kasus rabies yang ada di Dinas Pertanian? Heningsih menyebut ada 49 kasus gigitan dengan 46 diantaranya positif rabies. Penentuan kasus positif rabies tersebut dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium oleh Bidang Kesehatan Hewan Distan.
“Jadi bukan hanya karena digigit anjing kemudian ini rabies. Tidak. Untuk memastikannya, kami melakukan uji lab dengan cara terlebih dulu membelah kepala anjing dengan ciri-ciri rabies yang menggigit manusia,” tandasnya.
Terkait dengan penanganan kasus rabies, Kepala Distan Heningsih mengakui jika OPD yang dipimpinnya menghadapi banyak kendala. Selain kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan anjing peliharaannya yang masih rendah, kendala besarnya adalah keterbatasan anggaran untuk pembelian faksin anti rabies pada anjing.
“Jumlah populasi anjing 17 ribuan, tapi anggaran vaksin untuk hewan rabies hanya 4000 vaksin,” ungkapnya. Padahal untuk idealnya, anggaran pencegahan rabies harus menyentuh setidaknya untuk 90 persen populasi hewan penular rabies.
Guna meminimalisir kasus rabies, Heningsih mengharapkan adanya penambahan anggaran vaksin dan juga meningkatnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan anjing peliharaan ke Distan Poso. (bud)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.