Harus Paham Radikalisme Agar Tidak Mudah Terpapar

0
375
FOTO: KARTIKA/RADAR SULTENG
CEGAH RADIKALISME : Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), Dr Muh Nur Ali (kiri ujung), ketua pusat pengembangan deradikalisasi dan penguatan sosio akademik (Pusbang-Depsa) Untad, Dr Rahmat Bakri SH MH (tengah), dan Muh Marzuki MSi (kanan ujung) selaku moderator pada seminar nasional sesi kedua, yang berlangsung di ruang teater media center Untad, Selasa (25/9).

PALU – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Tadulako (Untad), menggelar seminar nasional dengan tema radikalisme di kampus perguruan tinggi terkait penyebab, pencegahan dan penanganan. Kegiatan ini digelar di ruang teater media center Untad, Selasa (25/9) kemarin.

Sejumlah narasumber yang berkompeten di bidangnya, mengisi kegiatan ini. Diantaranya, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), Dr Muh Nur Ali, Ketua Pusat Pengembangan Deradikalisasi dan Penguatan Sosio Akademik (Pusbang-Depsa) Untad, Dr Rahmat Bakri SH MH, Deputi Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Prof Dr Irfan MAg, dan beberapa narasumber lainnya.

Deputi Deradikalisasi BNPT, Prof Dr Irfan Mag, dalam penyampaiannya mengatakan, bahwa semua kampus harus terus waspada dengan adanya paparan radikalisme, karena adanya oknum yang mungkin saja bisa masuk dalam wilayah kampus dan mempengaruhi mahasiswa khususnya mahasiswa baru.

“Mahasiswa harus mengetahui dan memahami apa itu radikalisme, agar tidak mudah terpapar yang negatif, jangan muda percaya dengan materi diluar kuliah, dan mahasiswa harus banyak belajar, diskusi dan jangan menyalahkan orang lain. Boleh kritis tapi yang akomodatif, jangan yang anarkis,” ungkap Irfan.

Seminar yang berlangsung dua sesi, dengan masing-masing dua pemateri, diramaikan oleh mahasiswa Fisip yang terlihat antusias dan semangat dalam mengikuti seminar tersebut. Ketua panitia seminar Dr Andi Pasinringi MSi, ditemui usai pembahasan sesi pertama mengatakan, seminar ini dilaksanakan guna meminimalisir dan memberi pengetahuan kepada mahasiswa tentang radikalisme yang kini menyasar kawasan perguruan tinggi.

“Hal ini menjadikan semacam satu tindakan prefentif untuk mencegah jangan sampai ada fenomena radikalisme yang muncul di kampus, yang kini sudah banyak di bicarakan, kalau masyarakat kampus yang di dekati itu berbahaya, karena kita ini masyarakat ilmiah yang punya kecerdasan yang mampu mengaplikasikan pemikiran-pemikirannya kepada masyarakat,” jelasnya.

Sehingga diharapkan ke depan seminar terkait radikalisme terus di lakukan, karena sangat di harapkan sebagai pembelajaran bagi mahasiswa, apalagi mahasiswa baru, yang notabene sangat mudah terpapar paham radikalisme yang bisa saja masuk di dunia perguruan tinggi. (ika)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.