Tiga Kali Dihantam Ombak, Selamat Setelah Memanjat Pohon

Kisah Ayah dan Anak yang Selamat dari Terjangan Tsunami di Palu

0
344

RONY SANDHI : PALU – SULAWESI TENGAH

USAI dijemput di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Palu oleh keluarganya, ayah dan anak korban yang diterjang Tsunami di Pantai Talise Teluk Palu, Jumat (28/10), Agustinus Lele Sapu (41) dan anaknya Chisto (18) masih terlihat lusuh dan kacau. Wajah keduanya masih sering terlihat murung dan sesekali kaget ketika guncangan-guncangan gempa susulan masih terjadi.

Pipi kiri dan lengan kiri Cristo masih melekat perban putih akibat luka robek dengan luka jahitan.

Sambil menunduk Agustinus membuka ceritanya selamat dari terjangan tsunami. Jumat sore itu sekitar pukul 17.00 dia baru saja selesai mandi setelah pulang dari kerja di perusahaan ekspedisi. Usai mandi seperti kebiasaan hari-hari biasa dia duduk santai di ruang tamu. Tiba-tiba guncangan gempa membuatnya terjatuh dari kursi ke lantai, setelah terlepar ke kiri dan ke kanan, dia berusaha untuk keluar dari dalam rumah dengan merangkak. Berhasil keluar dari dalam rumah dia menjauh dari rumahnya yang terbuat dari papan. Selang sekitar dua menit usai gempa keras berkekuatan 7,7 SR dia melihat ke arah laut yang hanya berjarak sekitar 15 meter dari tanggul pantai Jalan Komodo.

Tidak lama kemudian hanya dalam hitungan detik, air laut naik sekitar tiga meter dia langsung berteriak kepada anaknya Cristo dan keponakannya Dony untuk lari menjauh dari pantai. Di tengah terjangan tsunami pertama dia terus mengarah ke arah bagian timur, sambil berenang ke arah pohon.

“Waktu saya sudah dihantam ombak pertama, saya sudah berenang ke arah pohon dan saya sempat teriak agar anak saya dan ponakan saya juga naik ke atas pohon yang berjarak sekitar 10 meter dari pohon yang saya naik,” tuturnya dengan suara bergetar.

Sambil mengusap luka gores dan memar di kedua kakinya akibat dihantam tsunami, Agustinus mengaku tsunami terjadi tiga kali, pada hempasan tsunami pertama ketinggian air sekitar tiga meter dengan kecepatan sedang, pada hempasan tsunami kedua saat dia naik ke atas pohon dia sempat melihat ombak berwarna putih dengan ketinggian sekitar enam meter dengan kecepatan air lebih kencang dari yang pertama. “Karena saya lihat air semakin tinggi saya naik lagi ke atas pohon lebih tinggi,” tuturnya.

Beberapa detik kemudian setelah hempasan tsunami kedua datang lagi arus tsunami ke tiga dengan tinggi dan kecepatan seperti tinggi ombak kedua. “Hempasan ombak kuat sekali, hanya dalam hitungan detik saya sempat lihat orang-orang yang duduk-duduk sore di tepi pantai, mobil, motor sampai truk kontainer yang parkir di pinggir jalan tepi pantai ikut terhempas kencang,” ujarnya dengan mimik muka serius.

Setelah hempasan air ketiga mereda dan masih ada genangan Agustinus yang akrab disapa Om Kuka bergegas dan berteriak ke anaknya Christo dan ponakannya Dony untuk turun dari pohon dan lari ke arah timur pesisir pantai ke arah yang lebih tinggi. Di antara reruntuhan dan puing-puing bangunan rumah di sekitar jalan tepi pantai beberapa mayat manusia mereka lari kearah ketinggian. Dengan kondisi luka-luka Agustinus dan anaknya Christo serta ponakannya menjauh dari pantai ke arah perbukitan.

“Karena di pipi anak saya terus mengeluarkan darah, seorang warga menawarkan mengantar anak saya ke rumah sakit Undata,” katanya lagi.

Senada dengan itu anak Agustinus, Christo menuturkan jika bukan naik ke atas pohon, mungkin saat hempasan ombak kedua yang sangat kencang dia juga akan terhantam ombak dan tidak akan selamat.” Dengan sepupu saya Dony sempat terpisah tapi akhirnya kami dapat naik ke pohon dan kami Tuhan tolong bisa selamat padahal rumah saya dekat sekali dengan pantai hanya bersebalelahan dengan jalan,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Sementara keluarga yang di Palu dan di Poso kata Christo, saat tahu kejadian tsunami di Palu keluarga sudah pasrah mereka tidak akan selamat. Bahkan keluarga di Palu, begitu keesokan harinya langsung mencek di sekitar pantai Penggaraman Talise dan melihat semua rumah rata, porak poranda. “Pokoknya keluarga semua yakin saya, papa dan sepupu sudah meninggal. Karena rumah sudah hilang yang ada hanya beberapa pohon.

” Puji Tuhan kami selamat dari musibah tsunami,” ucapnya bersyukur.
Sementara kerabat korban ditemui Radar Sulteng di tenda pengungsian, Bernad Jamorante (40) mengatakan, usai gempa dahsyat dan mendapat informasi pantai Talise Teluk Palu terkena Tsunami, Bernad langsung bergegas ke Pantai Talise di lokasi rumah Agustinus, anak dan ponakannya tinggal. Begitu melihat kawasan pantai Penggaraman Talise rata dan tidak ada lagi rumah, dia yakin 90 persen keluarganya yang tinggal di pesisir pantai tidak selamat.

“Begitu saya ke pantai, lihat rumah rata. Saya sudah berpikir mereka tidak selamat,” katanya.

Bahkan siang itu, dia juga berencana mau mencek jenazah korban tsunami yang dievakuasi dari pantai ke RSUD Undata Palu. Tapi begitu siang harinya dia mendapat kabar dari kerabat yang baru pulang dari RSUD Undata dan bertemu Agustinus, anaknya dan keponakannya. “Begitu dapat info saya langsung ke rumah sakit jemput mereka bawa ke posko pengungsian yang kami dirikan,” pungkasnya. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.