Dirut Jasa Raharja Meneteskan Air Mata

0
249
FOTO: JASA RAHARJA UNTUK RADAR SULTENG
PRIHATIN: Dirut Jasa Raharja Budi Raharjo Slamet (tengah) foto bersama keluarga Nur Imamah di Kelurahan Petobo. Kemarin (4/10).

PALU – Direktur Utama PT Jasa Raharja pusat, Budi Raharja Slamet tidak kuat menahan tangis ketika melihat kondisi rumah pegawainya yang luluh lantak akibat gempa bumi dahsyat 7,7 Skala Richter pada Jumat 28/9 lalu. Pasalnya, ditengah puing-puing tumpukan dan gundukan tanah berlumpur itu diduga kuat salah satu pegawai bernama Nur Imamah terkubur.

” Mohon bersabar ya. Kami turut prihatin semoga keluarga yang masih selamat diberikan ketabahan,” kata Budi yang langsung memeluk Pemred Radar Sulteng termasuk Trimen Surono (Suaminya), kemarin (4/10).

Dari atas gundukan tanah yang mulai mengeras itu, mata orang pertama di Jasa Raharja pusat itu terus memandangi puing-puing perumahan Petobo yang luluh lantak sambil meneteskan air mata dan berusaha menyekanya.

Saat mendatangi lokasi kejadian di Kelurahan Petobo, Dirut PT Jasa Raharja pusat didampingi Kepala Cabang Jasa Raharja Sulteng, Safarudin SP dan sejumlah stafnya. Mengingat kondisi lapangan yang masih berbahaya, Budi Raharjo meminta sejumlah stafnya termasuk Kacab Sulteng untuk kembali dan menjauh. Karena dari tiga arah saat itu sedang dilakukan proses normalisasi jalan yang tertimbun material sekaligus proses evakuasi jenazah. Selain itu, kondisi di lapangan khususnya udara tidak sehat lagi karena tercium berbagai aroma yang berasal dari korban yang tertimbun.

Sebelum meninggalkan lokasi di Petobo, Dirut Budi Raharjo kembali memeluk Trimen Surono (suami Nur Imamah) dan berpesan untuk tabah dan bersabar karena seluruh jajaran PT Jasa Raharja terus mendoakan agar Nur Imamah bersama putrinya Syifa Ramadhani (5) bisa ditemukan.

Sementara Kacab Jasa Raharja Sulteng, Safrudin bahwa Nur Imamah merupakan stafnya yang bertugas di kantor Samsat Kabupaten Sigi. Stafnya dikenal pekerja keras dan disiplin. Sebagai atasan Nur Imamah katanya, pihaknya terus berupaya melakukan pencarian sejak kabar stafnya itu diduga kuat menjadi korban bencana alam super dahsyat itu. ”Saya bersama karyawan dan pihak keluarga terus mencari keberadaan Nur Imamah bersama putrinya,” jelas Safrudin.

Dari penjelasan Trimen Surono bahwa, sebelum kejadian istrinya bersama anaknya sempat video call dan terlihat ceria sekali. Katanya, istri dan anaknya itu baru kembali belanja di mall. Proses video call terhenti karena adzan magrib berkumandang dan mengatakan akan dilanjut usai melaksanakan salat magrib.

”Sejak itulah terakhir saya komunikasi dengan istri dan anak via video call,” kata Trimen karyawan Askrindo di Papua itu.

Malam itu juga kata Trimen, pihaknya kehilangan kontak dengan istri dan anak termasuk keluarga di Palu. ”Saya langsung cari tiket pulang ke Palu. Sampai saat ini jejak istri dan anak saya tidak diketahui. Saya dapati rumah sudah bergeser sekira satu kilo lebih,” demikian kata Trimen yang terlihat matanya sdh membengkak menahan kesedihan. (Lib)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.