Suasana Haru Lepas Kepulangan Pasukan Marinir

0
213

 

PALU – Keterlibatan anggota TNI dalam penanggulangan bencana di Sulawesi Tengah banyak diapresiasi warga. Terhitung mulai 1 November 2018, pasukan yang berasal dari luar Sulteng ini pun, berangsur-angsur ditarik.

Kepergian para pasukan ini pun, seolah tidak rela dilepas warga. Hubungan yang telah terjalin antara prajurit TNI dan warga sendiri seolah sudah erat, meski hanya sebulan. Perasaan yang sama pun dirasakan para prajurit yang berat meninggalkan warga Sulawesi Tengah.

Keharuan ini sendiri bisa dilihat, saat Pasukan Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (PRCPB) Korps Marinir ditarik kembali ke basis setelah sekian lama bahu membahu bersama relawan lainnya menangani bencana di Palu, Sigi dan Donggala. Ada sekitar 656 orang personel terdiri dari satuan Pasmar 1 dari Jakarta dan Pasmar 2 dari Surabaya, Pasukan ini bertugas di Palu setelah satu hari pasca gempa, yaitu tanggal 29 September sampai masa tanggap darurat kedua selesai 26 Oktober yang lalu.

Wilayah tanggung jawab yang diberikan Kogasgabpad kepada pasukan elit TNI AL ini meliputi sektor Donggala bagian timur. Sebagaimana disampaikan Komandan PRCPB Korp Marinir, Kolonel Marinir Arinto Beni Sarana yang selama ini memimpin pasukan marinir memberikan bantuan kemanusiaan di Palu dan Donggala kepada awak media, bahwa Sektor penugasan jajaran pasukan marinir, mulai dari perbatasan Palu sampai Balaesang Tanjung dan Balaesang Darat kurang lebih sepanjang 120 km.

Menurut Kolonel Beni yang di kesatuannya menjabat sebagai Danmen Banpur 2 Pasmar 2 Korp Marinir TNI AL, kegiatan yang dilaksanakan satuan marinir ini antara lain ; melaksanakan penyelamatan dan evakuasi korban gempa bumi dan tsunami, memberikan bantuan medis, bantuan dukungan logistik, membantu mendirikan tenda-tenda pengungsi dan mendata korban bencana, terutama di daerah Donggala. Pasukan Marinir seluruhnya akan ditarik dan digantikan oleh pasukan kewilayahan yaitu Koramil-koramil Jajaran Korem 132 Tadulako. “Selanjutkan kami akan kembali ke basis untuk melaksanakan tugas yang akan datang,” jelasnya.

Dalam pengantaran terdapat puluhan warga masyarakat, salah satu yang berhasil diwawancarai adalah Wiwin, warga Desa Lende yang sengaja datang bersama beberapa tetangganya ikut mengantar di Pelabuhan Pantoloan. Dia menyampaikan terimakasih atas bantuan dari anggota marinir yang membantu di desanya. Mereka merasa bersedih atas kepulangan anggota marinir yang selama ini menjadi tumpuan masyarakat. “Mereka ini sudah seperti keluarga kita sendiri pak. Mereka tulus dan ikhlas membantu kami, berat bagi kami melepas bapak-bapak TNI ini,” kata Wiwin, dengan mata berkaca-kaca. (*/agg)

: Salah seorang anggota TNI tampak menangis sembari memeluk salah seorang warga yang menjadi korban gempa dan telah dianggap seperti keluarga sendiri. Momen haru ini terjadi saat kepulangan Pasukan Marinir kembali usai menjalankan misi kemanusiaan selama sebulan di Sulawesi Tengah. DOK. PEN MABES TNI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.