IT Sangat Berpengaruh terhadap Kesehatan Mata Anak

BKOW Sulteng Lakukan Sosialisasi kepada Ortu dan Guru PAUD Aisyiyah

0
133
FOTO: DOKUMENTASI PANITIA UNTUK RADAR SULTENG
SERAHKAN BANTUAN : Ketua BKOW Sulteng Derry Djanggola didampingi Ketua Bidang Pendidikan Kesehatan dan Teknologi BKOW Sulteng Hj Nursia, menyerahkan bantuan alat permainan dalam kepada murid PAUD Terpadu ABA 1 Palu, dalam kegiatan sosialisasi pengaruh IT terhadap kesehatan mata pada anak-anak, di PAUD Terpadu ABA 1 Palu, Senin (3/12).

PALU – Sebagai wujud kepedulian terhadap generasi bangsa di masa mendatang, Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Sulawesi Tengah menggelar sosialisasi pengaruh IT terhadap kesehatan mata pada anak-anak, Senin (3/12). Sosialisasi tersebut menyasar para orang tua (ortu) dan guru PAUD Terpadu Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) 1 Palu. Selain menggelar sosialisasi, dalam kegiatan tersebut BKOW Sulteng juga memberikan bantuan alat permainan dalam ruangan di sekolah tersebut.

Ketua BKOW Provinsi Sulteng Dra Hj Derry Djanggola MSi menyampaikan, tantangan orang tua saat ini tidak hanya dari dunia nyata saja. Namun lebih dari itu, peran dunia maya sangat mempengaruhi pembentukan karakter anak-anak. Era digital identitik dengan teknologi di sekitar lingkungan, baik itu gadget, internet, android, komputer, laptop, dan lainnya. Cara instan kadang kala digunakan untuk membuat anak-anak menuruti apa yang menjadi kehendak orang tua.

”Pemberian gadget, android dan alat teknologi lainnya jadi cara instan yang kadang diberikan kepada anak-anak kita. Saat mereka menangis, tidak bisa diam, bertengkar dan lain sebagainya. Harapan orang tua dengan pemberian alat-alat itu anak mau mengikuti apa yang menjadi harapan orang tuanya. Namun, terkadang cara tersebut tidak tepat, karena membuka jalan bagi anak untuk tergantung dengan alat teknologi tersebut, yang salah satunya berdampak pada kesehatan mata anak,” kata Derry Djanggola dalam sambutan sebelum membuka kegiatan ini.

Kesehatan mata, lanjut Derry Djanggola, terutama di usia anak-anak adalah hal penting untuk dijaga. Dengan mata yang sehat, maka kualitas pendidikan anak menjadi lebih baik. Berdasarkan riset Kementerian Kesehatan pada 2013, sekitar 4,6 persen dari total populasi penduduk Indonesia memakai kacamata refraksi dan lensa mata atau kacamata minus. Selain itu, sekitar 10 persen dari 66 juta anak usia sekolah (5-19 tahun) di Indonesia mengalami gangguan mata akibat kelainan refraksi.

Bagi anak yang sedang menempuh pendidikan, perhatian pada kesehatan mata merupakan hal yang perlu mendapat perhatian tersendiri, karena termasuk berpengaruh terhadap prestasi di sekolah.

“Nilai jelek di sekolah bukan berarti anak tidak pintar, tetapi bisa saja karena ada gangguan penglihatan,” sebutnya.

Mengingat pentingnya indera penglihatan, maka kata Derry Djanggola, BKOW Sulteng menggelar sosialisasi tersebut. Dijelaskannya, BKOW merupakan kumpulan organisasi wanita, turut berpartisipasi untuk mendukung anak-anak sebagai generasi yang unggul, termasuk unggul dalam bidang IT sekaligus sehat dalam penglihatan. Diakuinya bahwa sosial media dengan segala pirantinya sudah menjadi wadah umum bagi banyak orang untuk mencari info, bersosialisasi, dan sebagainya.

“Di melalui kegiatan ini kita mendapat pengetahuan dalam mendampingi anak-anak, salah satunya kita harus pintar-pintar memperhatikan jumlah waktu yang anak dihabiskan di depan layar baik televisi, komputer, hinggai Pad. Sehingga IT yang berkembang dapat member dampak yang positif bagi anak,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Pendidikan Kesehatan dan Teknologi BKOW Sulteng, Hj Nursia mengatakan, kegiatan yang menghadirkan dokter spesialis mata, dr Neni Parimo SpM, sebagai narasumber ini digelar karena banyak kasus yang ditemukan anak-anak yang awalnya lahir dengan kondisi normal, yang akhirnya akibat pengaruh teknologi yang berdampak kelainan pada mata. “Sementara mata itu adalah jendela dunia,” tuturnya.

Sekretaris BKOW Provinsi Sulteng, Anayanti Sovianita kepada Radar Sulteng mengatakan, peserta dalam kegiatan ini adalah para orang tua murid dan guru, serta para murid PAUD Terpadu ABA 1 Palu. “Kenapa dibuat di PAUD ABA 1 ini, karena di sini siswanya cukup banyak. Dan sengaja melibatkan orang tua, karena orang tua adalah kontrolnya. Peran orang tua sangat dibutuhkan dalam mengawasi anak dalam penggunaan alat teknologi,” tandasnya.(fdl/exp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.